Juni 25, 2010

Film-Film Karya Wim Wenders di Bentara Budaya Bali

Posted in Agenda pada 3:17 am oleh Komunitas Sahaja

25–26 Juni 2010

Sebagai sutradara kelahiran Dusseldorf, Jerman, 14 Agustus 1945, nama Wenders cukup melambung di Amerika Serikat. Ia memeroleh penghargaan internasional sebagai sutradara terbaik dan Grand Jury Prize dalam Festival Film Cannes, Prancis. Ia juga menerima penghargaan Leopard of Honour di Festival Film Internasional Locarno pada 2005. Setelah lulus dari studi kedokteran di filsafat di Jerman, Wim mendalami seni di Paris, di tempat di mana ia memuaskan diri menonton film-film Prancis dan Amerika.

Wim Wenders, terkenal piawai mengolah hal-hal melankolis menjadi sesuatu yang menggetarkan. Hampir semua karyanya kental dengan tema-tema seputar kesepian, perasaan tersisihkan, dan serangkaian perjalanan mencari sesuatu.

Gaya Wenders menekankan segi visual, dan menempatkan cerita pada tingkat yang sekunder. Ia merenungkan lanskap dan pemandangan kota. Film-film Wenders telah sering disebut “film dari tatapan penuh kerinduan”. Baginya karema adalah sebuah sarana afeksi (demikian kata para kritikus yang menyukai film-filmnya). Unsur khas lain dari film-film Wenders adalah penggunaan musik, khususnya musik rock ‘n’ roll Amerika.

Paris, Texas (1984) menjadi suksesnya yang terbesar. Film ini dibuat di Amerika Serikat, dan naskahnya dibuat oleh Sam Shepard. Film ini memenangkan penghargaan “Palem Emas”. Lalu Wenders pulang ke Jerman untuk membuat Wings of Desire yang juga menang di Cannes pada 1987 untuk kategori Sutradara terbaik. Film yang menceritakan kisah tentang dua malaikat di Berlin yang terbagi dua ini adalah sebuah film kritis dan sukses secara komersial. Film ini diikuti oleh Far Away, So Close, yang mengambil tempat di Berlin setelah tembok kota itu diruntuhkan (1993).

Dan bulan ini, Bentara Budaya Bali akan memutar 4 film karya Wenders  yaitu Paris, Texas, The American Friend, Wings of Desire dan Faraway, So Close.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 25 Juni 2010

  • Paris, Texas(1984)

Sinopsis:

Do you mind telling me where you’re headed, Trav?
What’s out there? There’s nothing out there
.”
—Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton)
di film Paris, Texas (Wim Wenders, 1984)

Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut masai, langkahnya ringkih, terayun dalam irama tak pasti. Dari atas bebatuan kusam, berlatar belakang langit biru terang nan luas, seekor burung pemangsa menatapnya tajam, mungkin menanti kematiannya. Letih dan dahaga menyergap tak terperi, namun di atas segalanya, rasa kehilanganlah yang paling kentara: mata pria itu cekung dan menerawang. Di film Paris, Texas (1984), si pejalan kaki yang linglung itu bernama Travis, dan memang ada yang hilang dari hidupnya. Tapi dia tidak ingat apa itu. Dia terus melangkah dan melangkah, tanpa tahu ke mana dan mengapa.

Di menit-menit berikutnya, kita kemudian tahu, Travis ternyata memiliki anak dan istri, dan saudara laki-laki bernama Walt. Sesuatu yang buruk telah terjadi di masa silam, hingga Travis harus kehilangan mereka semua. Dan sebaliknya, mereka juga kehilangan dia. Travis raib tanpa kabar, dan orang-orang menyangkanya sudah mati. Tapi beberapa tahun kemudian dia muncul kembali: dari padang antah berantah, berbaju kumal, dengan ingatan payah dan mulut terkunci. Di salah satu gurun itulah Travis jatuh pingsan karena kelelahan, dirawat oleh dokter, dan Walt datang menjemputnya.

Cerita kemudian bergulir bukan pada kisah orang hilang, namun lebih pada perasaan kehilangan itu sendiri. Di sepanjang film penonton disuguhi upaya keras seorang ayah sekaligus suami melawan amnesia, mencari-cari kepingan masa lalu yang tercecer, menyusun ulang sembari berharap bisa kembali utuh seperti semula. Hunter, putranya yang masih bocah, ternyata dibesarkan oleh Walt dan pasangannya di kota Los Angeles selama dia menghilang. Sementara Jane, sang istri tercinta, tak jelas kabarnya. Layaknya perasaan kehilangan pada umumnya, selalu ada yang sulit kembali. Perlahan Travis mulai bersedia membuka mulut, dan memorinya berangsur-angsur pulih. Dengan segala keterbatasannya, susah payah dia terus mencoba. Maka film Paris, Texas, yang mengalir khidmat seperti air sungai yang tenang, lebih terfokus pada jalinan plot yang simpel, skenario lurus, dan karena itu justru mengharukan di sana-sini.

Tampak pada satu adegan, Travis bercukur rapi, membeli baju dan memakai sepatu yang pantas, lalu menjemput anaknya di gerbang sekolah. Dia peragakan aksi-aksi konyol demi merebut kembali hati Hunter yang awalnya tak bisa menerima kedatangannya. Setelah hubungan ayah dan anak mulai menghangat, mereka berdua sepakat melintasi perbatasan kota, mencari sang ibu. Rupanya Jane selalu mengirim uang untuk Hunter pada tanggal tertentu tiap bulannya dari sebuah rekening bank di Houston. Untuk melacaknya, Travis pun membeli sebuah truk tua. Maka dimulailah misi mulia itu, perjalanan mencari sesuatu yang di hilang di masa lalu.

  • The American Friend(1977)

Sinopsis:

Tambang Wim Wenders ‘Dennis Hopper’s real-pengalaman hidup sebagai pelukis dan kolektor dalam mengambil eksistensial pada film gangster Amerika yang berbasis pada novel Patricia Highsmith yang menampilkan Tom Ripley sosiopat terkenal. Hopper bintang sebagai eponymous Amerika, saat ini perantara yang menjual karya pelukis Derwatt Amerika (Nicholas Ray), yang pura-pura mati sendiri untuk meningkatkan nilai lukisannya. Sementara lelang ini bekerja di Berlin, ia bertemu seni pemulih Jonathan Zimmerman (Bruno Ganz), siapa dia belajar menderita penyakit darah yang tak tersembuhkan. Ketika seorang teman teduh (Gerard Blain) membutuhkan Ripley untuk menemukan “bersih” non-profesional untuk melakukan kontrak hit untuk membayar utang, bahkan dia enggan. Tapi ia dengan cepat menyadari bahwa Jonathan fisik rentan akan cocok untuk pekerjaan, dan mencoba untuk mendapatkan dia menerima dengan menggunakan berbagai dalih untuk membujuk dia bahwa kondisinya lebih buruk dari itu. Sementara itu, Blain menjamin pemulih bahwa keluarganya akan aman secara finansial seumur hidup, dan kesepakatan tercapai. Seperti biasa, tidak ada yang cukup berhasil seperti yang diharapkan.

Sabtu, 26 Juni 2010

  • Wings of Desire(1987)

Sinopsis:

Judul asli Jerman adalah Der Himmel über Berlin, yang dapat diterjemahkan sebagai The Sky (atau Surga) atas Berlin. Damiel ( Bruno Ganz ) dan Cassiel ( Otto Sander ) adalah malaikat yang mengawasi kota Berlin. Mereka tidak memiliki harpa atau sayap (baik, mereka biasanya tidak memiliki sayap) dan mereka lebih suka gaun mantel untuk halus. Tapi mereka dapat melakukan perjalanan yang tak terlihat melalui kota, mendengarkan pikiran orang, mengawasi tindakan mereka dan belajar hidup mereka. sementara mereka bisa membuat kehadiran mereka terasa di cara kecil, hanya anak-anak dan malaikat lain dapat melihat mereka. Mereka menghabiskan hari-hari mereka tenang mengamati, tidak dapat berinteraksi dengan orang-orang, dan mereka merasa tidak sakit atau sukacita. Suatu hari, Damiel menemukan jalan ke sirkus dan melihat Marion ( Solveig Dommartin ), seorang seniman-kawat tinggi, berlatih tindakannya, ia segera jatuh cinta. . Setelah pemilik sirkus memberitahu perusahaan bahwa acara ini kehabisan uang dan harus bubar, sink Marion ke sebuah funk, menyeret kembali ke trailer untuk merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya Ketika ia menonton itu, Damiel membuat keputusan: dia ingin menjadi manusia, dan ia ingin bersama Marion, untuk mengangkat semangatnya dan, jika perlu, untuk berbagi rasa sakitnya. Wim Wenders Wings ‘Keinginan adalah sebuah dongeng modern yang luar biasa kisah tentang sifat yang hidup.  Saksi malaikat keseluruhan emosi manusia, dan mereka mengalami kemewahan kesenangan sederhana (bahkan secangkir kopi dan rokok) sebagai orang-orang yang belum pernah mengenal mereka. Dari sudut pandang malaikat ‘, Berlin cantik terlihat dalam hitam-putih – sangat cantik tapi nyata; ketika mereka bergabung dengan manusia, bergeser gambar untuk warna kasar tapi terlihat alami, dan kasih karunia seperti waltz-malaikat’ drift melalui perubahan kota untuk irama keras. Peter Falk muncul sebagai dirinya sendiri, mengungkapkan sebuah rahasia yang kita mungkin tidak tahu tentang orang yang bermain Columbo, dan ada juga penampilan singkat tapi kuat oleh Nick Cave & the Bad Seeds. Keinginan engsel sayap pada tidak berwujud dan sukar dipahami, dan membangun sesuatu yang indah dari kualitas-kualitas.

  • Faraway, So Close (1993)

Sinopsis:

Wim Wenders mengunjungi kembali karyanya Der Himmel Uber Berlin dalam film ini yang mengangkat beberapa tahun setelah meninggalkan off asli. Cassiel ( Otto Sander ) adalah seorang malaikat yang mengawasi kehidupan masyarakat baru-baru ini bersatu Berlin dengan Raphaella ( Nastassja Kinski ). Damiel ( Bruno Ganz ), Damiel ( Bruno Ganz ), mantan mitra Cassiel yang memilih untuk kembali ke tanah yang hidup dalam film pertama, sekarang hidup bahagia sebagai koki pizza dengan wanita yang dicintainya dan menikah, pemain sirkus Marion ( Solveig Dommartin ). Sementara malaikat dilarang secara langsung campur tangan dalam kehidupan manusia, Cassiel impulsif melanggar aturan ini, ketika seorang gadis kecil jatuh dari balkon blok apartemen, dan dia swoops bawah untuk menangkapnya. Tiba-tiba menjadi daging dan darah, Cassiel telah menerima permusuhan dari Keluarkan Flesti ( Willem Dafoe ), semacam pengawas para malaikat pada bidang fisik. Keluarkan membuat usahanya untuk membuat hal-hal sulit untuk Cassiel sekarang ia tinggal di antara manusia, dan setelah periode alkohol dan penjara, Cassiel menemukan dirinya bekerja untuk gangster Tony Baker ( Horst Buchholz ), yang mendistribusikan senjata dan pornografi di pasar gelap . Namun, Cassiel telah berubah pikiran dan memutuskan untuk menghancurkan’s stockpile Tony dalam upaya untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Peter Falk , yang bermain sendiri di Der Himmel Uber Berlin , membuat penampilan kembali ketika galeri menunjukkan sketsa bahwa ia keputusan dalam film pertama; penyanyi rock Lou Reed dan mantan presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev juga muncul sebagai diri mereka sendiri.

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Remaja dan Dewasa. Apabila diperlukan, setiap peserta memperoleh sertifikat.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com




April 20, 2010

FILM MUSIKAL OSCAR DI BENTARA BUDAYA BALI

Posted in Agenda pada 2:56 pm oleh Komunitas Sahaja

Sebuah film, sebagaimana karya-karya seni lainnya, tidak hanya dipandang mampu memberikan pengalaman kreatif dan estetik bagi pemirsanya, namun juga dapat menjadi cerminan atas kehidupan serta problematik keseharian kita. Hal ini dapat disimak dalam tayangan film-film musikal peraih Piala Oscar (Academy Award) yang akan digelar Bentara Budaya Bali, bekerjasama dengan Komunitas Sahaja dan Udayana Scientific Club, pada Jumat dan Sabtu, 23-24 April 2010 mendatang. Acara ini akan diselenggarakan sedari pukul 16.00 WITA di Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass Prof. Mantra No. 88 A, Ketewel, Gianyar.

”Sebelumnya, sedari bulan Januari hingga Maret kemarin, telah diputar film-film karya sineas-sineas Iran, Cina, juga film-film dari Giuseppe Tornatore (Italia). Untuk agenda yang keempat di tahun 2010 ini, sengaja diputarkan film-film dari sutradara-sutradara Amerika mumpuni. Tujuannya adalah guna menghadirkan kepada publik salah satu sisi dunia perfilman Amerika, yang selama ini hanya dikenal sebagai negara industri film yang cenderung mengandung unsur hero dan melodrama melalui produksi-produksi Hollywoodnya,” ujar Sri Puspita dan Novianti Sri Cahyani, koordinator acara ini.

Film-film yang akan digelar oleh Bentara Budaya Bali kali ini merupakan hasil karya yang diproduksi sedari tahun 1950 hingga 2000-an, semisal An American in Paris (1951) garapan sutradara Vincente Minnelli, Mary Poppins (1964) yang dibintangi oleh Aktris Terbaik dalam Academy Award, Julie Andrews. Kedua film ini akan diputar pada Jumat, 23 April 2010.

Tayangan karya Bob Fosse, Cabaret (1972), yang meraih delapan Oscar, juga akan ditampilkan pada hari kedua acara pemutaran film Bentara Budaya Bali. Sebagai penutup, dihadirkan salah satu film besar Amerika, Chicago (2002), yang merupakan adaptasi dari lakon Amerika tersohor, Broadway. Film ini disutradarai oleh Bob Fosse, yang kemudian disempurnakan kembali oleh sineas Amerika terkenal, Rob Marshall, dengan aktor serta aktris mumpuni, Chaterine Zeta Jones serta Richard Gere.

”Selain menggelar pemutaran film, acara ini juga akan dilanjutkan dengan diskusi yang memberikan ruang bagi hadirin untuk dapat membagikan pengalaman kreatifnya selama kegiatan ini berlangsung,” ujar Sri Puspita.

”Ke depan, di samping melakukan kegiatan serupa secara berkelanjutan, Bentara Budaya Bali juga akan mengagendakan workshop film, yang menghadirkan penggiat film Indonesia mumpuni,” tambah Novi.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 23 April 2010

  • An American in Paris (1951)

Sinopsis:

An American in Paris (1951) adalah film produksi MGM, salah satu industri film ternama Amerika. Film musikal ini terinspirasi oleh komposisi orkestra yang ditampilkan pada tahun 1928 oleh Goerge Gershwin. Dibintangi oleh Gene Kelly, Leslie Caron serta Oscar Lavent, di bawah arahan sutradara Vincente Minelli, film ini mengambil setting di Paris. Adegan-adegannya ditampilkan dengan sedemikian memukau, dengan paduan musik orkestra serta tari balet yang sungguh indah. Karenanya, film ini pun layak dianugerahi enam piala Oscar (Academy Award) pada masanya.

Film ini berkisah tentang Jerry Mulligan (Gene Kelly), seorang veteran Amerika semasa perang dunia II, yang kini menjadi ekspartriat di kota Paris, Perancis. Di negeri Eropa inilah ia mencoba untuk menjadi seorang pelukis, yang bersahabat dengan pianis konser, Adam (Oscar Levant) yang berjuang mempertahankan idealismenya bersama rekan penyanyinya, Henri Baurel (George Guétary).

Kisahan menjadi lebih menarik lagi  setelah Jerry berjumpa dengan Milo Roberts (Nina Foch), seorang gadis yang amat merindukan kehangatan persahabatan, keindahan, serta cinta yang suci. Namun, Jerry malahan tidak menyadari perasaan cintanya, dan memilih mencintai perempuan lain, Lise (Leslie Caron), seorang dara Perancis yang jelita.

Kisah cinta mereka tak berjalan dengan baik. Pada bagian kisahan selanjutnya, hadirin akan dibuat terhenyak begitu menyadari bahwa Leslie ternyata telah menjalin affair dengan Henri lantaran merasa berhutang budi kepada sang biduan tersebut sebagai ungkapan terimakasih telah menyelamatkan keluarganya dari tragedi Perang Dunia II. Malang tak dapat ditolak, Jerry yang tak menyadari hal itu sebelumnya harus menghadapi kenyataan bahwa pujaan hatinya akan menikahi Henri si penyanyi. Sementara itu, Milo, yang putus asa, tak dapat berbuat apa-apa untuk meraih kebahagiaan yang diimpikannya—yakni meraih cinta Jerry.

Adegan penutup An American in Paris sungguh amat mengharukan. Setelah memahami kejadian pelik yang dialaminya, Jerry seketika merasa gamang. Dengan iringan orkestra yang memukau, Jerry melamunkan wajah kota Paris, membayangkan masa lalu, dan harapan akan masa depannya yang pupus di tengah jalan.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Mary Poppins (1964)

Sinopsis:

Diproduksi pada tahun 1964 oleh Walt Disney, Mary Poppins adalah sebuah film musikal yang dibintangi oleh Julie Andrews dan Dick Dyke. Film klasik ini disutradarai oleh sineas Amerika tersohor Robert Stevenson, di mana penulis naskahnya ialah Bill Walsh dan Don DaGardi. Film ini bahkan telah dinominasikan pada 13 kategori dalam Piala Oscar, serta berhasil menyabet 5 penghargaan tersebut, salah satunya untuk kategori Aktris Terbaik (Julie Andrews).

Cerita film ini bermula dari Mary Poppins (Julie Andrews) yang membayangkan dirinya melayang riang di langit musim semi London di tahun 1910. Namun, sekilas adegan pembukaannya, kisahan seakan ‘dibumikan’ dengan gambaran peristiwa sebuah taman, di mana Bert (Dick van Dyke), yang tengah memainkan sebuah pertunjukan musik tunggal di salah satu pintu masuknya. Setelah adegan musik yang menyentuh itu, cerita segera beralih pada kehidupan keluarga Tuan Banks (David Tomlinson), di mana pada keluarga inilah Mary Poppins kemudian bekerja sebagai pengasuh anak-anaknya.

Sungguh tak mudah bagi Mary untuk memenuhi tugas-tugasnya. Tuan Banks begitu dingin serta bersikap acuh tak acuh pada segala hal. Sementara itu, putra-putrinya sedemikian bandel dan betul-betul kepala batu. Istri majikannya, Nyonya Banks (Glynis Johns) pun tak kalah sinis terhadap Mary, sang pengasuh baru itu.

Namun Mary tak kenal menyerah. Dengan sabar, ia memberikan cara pandang yang lain terhadap putra-putri keluarga Banks, mengajarkan mereka untuk memahami dan menghayati kebahagiaan, berimajinasi dan menemukan hal-hal tak terduga dalam hidup mereka. Dengan menggunakan idiom layang-layang sebagai makna cinta dalam keluarga, anak-anak mulai mengerti sedikit demi sedikit akan betapa pentingnya kehidupan keluarga yang penuh tawa dan canda.

Film ini ditampilkan dengan amat menyentuh, mengajak pemirsanya untuk tidak hanya bergembira bersama dengan iringan musik dan lagu yang indah, namun juga merenungi kembali makna keseharian serta menemukan keindahan kebahagiaan.

Detail Info Film Klik di Sini.

Sabtu, 24 April 2010

  • Cabaret (1972)

Sinopsis:

Film ini mengisahkan tentang Sally Bowles, (Liza Minneli), seorang penyanyi kelas dua yang bermukim di Jerman sebelum Perang Dunia II. Impiannya hanya satu: menjadi bintang biduan yang kaya raya. Sambil mengangankan harapannya itu, Sally menghabiskan hari-harinya dengan menjadi seorang penyanyi di kabaret Kit-Kat, bar kumuh di mana pengunjungnya hanyalah sekumpulan orang-orang yang miskin dan cenderung perilaku tak senonoh.

Sally kemudian berjumpa dengan Brian Roberts (Michael York), pemuda tampan namun miskin yang juga diasingkan oleh kehidupan sosialnya. Selama ini Brian berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengajarkan bahasa Inggris seraya mencoba menyelesaikan studinya di Jerman. Sia-sia saja Sally merayu dan melemparkan isyarat cinta pada Brian, hingga akhirnya, dengan saking jengkelnya, Sally pun berkesimpulan bahwa Brian pastilah seorang gay.

Selama film ini diputar, pemirsa dapat dengan kentara menemukan betapa kentalnya kehidupan sosialis ala NAZI di dalamnya. Adegan gosip dan gunjingan ditampilkan dengan apik, sehingga kian menegaskan pengaruh ide-ide rasisme yang boleh jadi juga mencerminkan kehidupan masyarakat Jerman masa itu.

Sally memiliki seorang sahabat, Maximilian von Heune (Helmut Griem), seorang bangsawan kaya raya. Sewaktu melihat sosok lelaki ini, segera saja Sally membayangkan adegan percintaan dengan Max si bangsawan, tentu saja dengan sedikit angan-angan tentang wajah Brian. Kisahan menjadi makin menarik setelah Sally mengaku kepada Brian bahwa dirinya telah bercinta dengan Max. Pernyataan ini disambut dengan tawa sinis Brian, yang membalas bahwa dirinya juga telah tidur dengan Max.

Pada bagian berikutnya, Sally menyadari bahwa dirinya hamil. Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba ia memutuskan untuk melakukan aborsi. Kenyataan ini agaknya mengubah pandangan Sally dan Brian. Di tengah kehidupan yang kian pelik, dengan situasi sosial dan politik yang tak mudah, Brian mesti mengambil sikap: bertolak ke Inggris dan meninggalkan Jerman selamanya. Sementara itu, Sally bertahan di negeri Eropa itu, menyanyikan lagu pada hadirin yang mulai menghargai talentanya.

Namun adegan penutup agaknya memberikan indikasi yang berbeda. Pemirsa tentu tak akan menduga, bahwa di ujung cerita, Sally mesti menghadapi kenyataan di mana kabaret tempatnya bekerja mesti ditutup oleh sepasukan serdadu NAZI. Adakah ini kenyataan politik yang memupuskan harapan, ataukah titik tolak baru akan lahirnya angan-angan yang lain, pemirsalah yang menilainya.

Film yang dirilis tahun 1972 ini disutradarai oleh Bob Fosse. Film musikal ini meraih delapan penghargaan Oscar, salah satunya adalah penyutradaraan terbaik.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Chicago (2002)

Sinopsis:

Chicago (2002) adalah film Amerika musikal yang diadaptasi dari naskah satir khas Broadway yang bertajuk serupa. Film ini mengeksplorasi dengan apik beragam tema yang pelik, semisal selebritas, skandal, serta korupsi, yang dipadukan dengan gaya jazz ala kota Chicago.

Disutradarai oleh Rob Marshall, film ini berkisah tentang kehidupan kota Chicago pada tahun 1927. Cerita dimulai oleh Roxie Hart mengunjungi klub malam, di mana bintang Velma Kelly melakukan pertunjukan All That Jazz bersama Fred Casely. Kedatangannya dipenuhi dengan harapan dan rencana, yakni melihat gelagat sekitar, mencari dengan siapa ia dapat menjalin affair, yang giliran berikutnya dapat menjadi batu loncatannya meraih sukses sebagai bintang vaudeville.

Tanpa dinyana, kehadirannya di tempat pertunjukan tersebut seketika mengubah jalan hidupnya. Seusai pertunjukan, Velma ditangkap karena dituduh membunuh suaminya yang berselingkuh dengan adiknya, Veronica, sesaat setelah Velma menemukan mereka di tempat tidur bersama. Sebulan kemudian, Fred menyatakan bahwa ia menyatakan kepada Roxie bahwa dirinya berbohong tentang koneksi di bisnis pertunjukan hanya demi menginginkan tubuh Roxie semata. Mengetahui hal ini, Roxie yang diliputi amarah pun menembak Fred tiga kali.

Malang bagi Roxie tak hanya berhenti di situ. Dengan tipu daya suaminya yang naif, Amos, dirinya dijebloskan ke penjara. Di sanalah Velma dan Roxie bertemu, berada dalam kehidupan yang sulit di mana mereka mesti menghadapi sipir penjara yang korup. Di sana pula mereka belajar akan makna kehidupan dan mencoba bertahan untuk meraih impian. Mereka tumbuh menjadi pribadi bertanggung-jawab yang berhasil memetik pelajaran dari pengalaman sesama napi di bui tersebut.

Selama itu pula, Roxie berupaya menemukan upaya guna mengembalikan nama baiknya. Dengan bantuan Billy Flynn, pengacara Velma, ia mencoba membuat kenyataan palsu tentang kehidupan, bahkan juga kehamilannya untuk membuat suaminya, Amos, tersudutkan. Setelah kenyataan yang dimanipulasi itu, Roxie pun memperoleh publisitas dan seakan hampir meraih harapannya untuk bebas dan tenar.

Info Detail Film Klik di Sini.

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Remaja dan Dewasa. Apabila diperlukan, setiap peserta memperoleh sertifikat.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com

Februari 9, 2010

PEMUTARAN FILM CHINA DI BENTARA BUDAYA BALI

Posted in Agenda pada 1:24 pm oleh Komunitas Sahaja

Enam film China yang akan diputar berjenis drama dan komedi yang telah meraih berbagai penghargaan di kancah internasional. Film-film tersebut memberi gambaran tentang perkembangan masyarakat China yang bergerak mulai dari golongan pedesaan yang miskin hingga kaum metropolitan yang gemerlap dan modern.

Dua film drama komedi Zhang Yimou adalah Not One Less (1999, 106 menit) dan Happy Times (2001, 95 menit). Film pertama adalah tentang Gao, seorang siswi berusia 13 tahun yang terpaksa harus menjadi guru pengganti di sebuah sekolah dasar di pedesaan. Oleh gurunya, jika ingin memperoleh bonus sejumlah uang, Gao diwanti-wanti ke-28 murid yang dititipkan kepadanya harus tetap dalam jumlah utuh jika sang guru balik dari perjalannya ke kota. Celakanya, salah satu murid menghilang karena dikirim ibunya untuk bekerja ke kota, Gao pun menyusul mencari. Film ini memenangkan penghargaan Singa Emas di Festival Film Venesia. Sementara film kedua lebih kocak, berkisah tentang seorang lelaki pembual.

Film drama Together (2002, 118 menit) karya Chen Kaige berkisah tentang seorang remaja pria yang amat piawai bermain biola yang dibawa oleh ayahnya dari kota kecil untuk mengembangkan bakatnya di Beijing. Si remaja sempat ditolak sekolah musik terkenal, namun kemudian dibina langsung oleh dua orang guru musik yang disegani. Film drama The King of Masks (1996, 101 menit) arahan Wu Tianming amat mengharukan karena mengisahkan seorang pria tua pengamen topeng jalanan (dibintangi aktor senior Zhu Xu) yang ingin mewariskan kemampuannya kepada seorang anak pria. Anak yang ditemukannya di jalanan yang semula dikiranya pria, ternyata bocah perempuan.

Film kelima adalah Beijing Bicycle (2001, 113 menit), karya sutradara Wang Xiaoshuai dengan judul asli Shiquide danche, yang diproduksi sebagai bagian dari seri film Tales of Three Cities ciptaan sutradara-sutradara muda China. Film drama ini mengisahkan seorang pemuda dari pedesaan China yang mengadu nasib di Beijing sebagai kurir antaran surat yang menggunakan sepeda.

Film keenam, Shower (1999, 95 menit) ditulis dan disutradarai Zhang Yang. Film drama komedi ini jenaka juga sentimental. Film ini mengisahkan kehidupan di sebuah kawasan tua Beijing yang masih dihuni orang-orang berusia agak lanjut yang biasa menjadikan tempat pemandian umum untuk berkumpul dan bersosialisasi. Pemilik tempat pemandian itu adalah Liu yang diperankan Zhu Xu (pemain utama The King of Masks) yang mempunyai dua orang putra. Anak pertama adalah seorang pria karir modern yang tinggal di metropolitan Shenzhen di selatan dan kebetulan pulang menjenguk sang ayah. Adiknya agak mengalami keterbelakangan mental. Masalah terjadi ketika kawasan tempat pemandian umum itu akan dibongkar.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 12 Februari 2010

Not One Less
Happy Times
Together

Sabtu, 13 Februari 2010

The King of Masks
Beijing Bicycle
Shower

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Semua Umur.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar // Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com

Desember 2, 2009

Ayo, Ikut Workshop Fotografi dan Komik ‘MuDA Creativity 3th Anniversary’!

Posted in Agenda pada 11:13 am oleh Komunitas Sahaja

Kawan-kawan,

Ini dia satu lagi acara yang tentu menarik dan sayang dilewatkan.

Serangkaian dengan perayaan ulang tahun Kompas MuDA, tahun ini akan digelar kegiatan MuDA Creativity, sebuah program workshop serta kompetisi bagi generasi muda. Berlangsung di 7 kota, salah satunya Denpasar, pada Sabtu, 12 Desember 2009, di Fakultas Kedokteran Univ. Udayana, pukul 13.00 – 19.00 WITA.

Acara

Workshop Fotografi (13.00 – 16.00)

Workshop Komik      (16.00 – 19.00)

Reservasi

7 – 11 Desember 2009, Pukul 15.00 – 17.00

Museum Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Informasi

Telp : Aswarini (081 805 470 801) / Itha (081 834 8006)

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com

Tempat terbatas! Ayo buruan daftar!

Ketentuan Workshop Fotografi dan Komik ‘MuDa Creativity 3th Anniversary’

Posted in Agenda pada 11:06 am oleh Komunitas Sahaja

Nah, bagi kawan-kawan yang ingin ikut acara Workshop Fotografi dan Komik ‘MuDA Creativity’, inilah ketentuannya.

Umum

Peserta Workshop Fotografi dan Komik “Muda Creativity 3th Anniversary” ini terbuka untuk pelajar SMA/SMK/sederajat serta mahasiswa, antara usia 15-25 tahun.

Peserta Workshop Fotografi“Muda Creativity” sebelumnya sudah melakukan registrasi pada panitia.

Biaya pendaftaran Workshop sebesar Rp 20.000 untuk tiap kegiatan, dengan fasilitas program sebagai berikut:

  • Materi Kegiatan
  • Sertifikat Tingkat Nasional
  • Konsumsi (paket dari KFC)
  • Souvenir Peserta berhak mengikuti Lomba “Muda Creativity 3th Anniversary” dengan puncak acara di Jakarta pada tahun 2010 mendatang.

Peserta diharapkan hadir 15 (lima belas) menit sebelum acara dimulai untuk melakukan registrasi, dengan membawa kartu identitas (KTP, kartu pelajar, Kartu Tanda Mahasiswa) yang masih berlaku.

Khusus

Untuk Workshop Fotografi, masing-masing peserta diharapkan membawa perlengkapan fotografi, semisal kamera digital ataupun handphone dengan fasilitas kamera, serta dilengkapi dengan kabel USB ataupun memory card untuk memudahkan transfer data.

Untuk Workshop Komik, masing-masing peserta diharapkan membawa perlengkapan gambar, semisal kertas gambar/sketsa, pensil ataupun alat tulis lainnya.

    Oktober 6, 2009

    20 PUISI TERPILIH FRINGE EVENT UBUD WRITERS AND READERS FESTIVAL 2009

    Posted in Agenda pada 6:42 am oleh Komunitas Sahaja

    1. Judul            : Sajak Semu untuk Sintya

    Karya           : I Putu Agus Sutrarama

    Asal             : Tabanan

    2. Judul            : Sepagi

    Karya           : I Putu Agus Sutrarama

    Asal             : Tabanan

    3. Judul            : Bubble Gum Rasa Mint
    Karya           : Dita Astarini

    Asal             : Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Unud

    4. Judul            : Cicak yang Berdecak
    Karya           : Dita Astarini

    Asal             : Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Unud

    5. Judul            : Tat Twam Asi

    Karya           : Ayu Sugiharti Pratiwi

    Asal             : Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja

    6. Judul            : Selepas Malam

    Karya           : Ratih Astiti

    Asal             : Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Unud

    7. Judul            : Tersesat pada Waktu

    Karya           : Ratih Astiti

    Asal             : Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Universitas Udayana

    8. Judul            : PULANG KAMPUNG

    Karya           : A.A Gede Ngurah Putra Adnyana

    Asal             : Denpasar

    9. SERENADA PEREMPUAN BULELENG

    Karya           : A.A Gede Ngurah Putra Adnyana

    Asal             : Denpasar

    10. Di Jendela

    Karya         : I Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi

    Asal           : SMA N 3 Denpasar

    11. Gulali Merah Untuk Adikku
    Karya         : I Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi

    Asal            : SMA N 3 Denpasar

    12. SAJAK FEBRUARI

    Karya         : Gung diah

    Asal           : SMP N 2 Denpasar

    13. Karena Hujan TIDAK Datang Tiba-tiba

    Karya         : Dita astarini

    Asal           : Sastra Inggris, Fakultas Sastra Inggris, Unud

    14. Bulan Kaca

    Karya         : I putu agus sutrarama

    Asal           : Tabanan

    15. AKU MAU DADONG MATI

    Karya         : Ida Ayu Neka Budianthi

    Asal           : Denpasar

    16. Dinda

    Karya         : I Putu Agus Sutrarama

    Asal            : Tabanan

    17. Mata Kata

    Karya         : I putu agus sutrarama

    Asal            : Tabanan

    18. HANYA AKU
    Karya         : Putu anggun cahyanti suarmadewi

    Asal            : SMA N 8 Denpasar

    19. Sajak Kecil Gayatri

    Karya        : Ratna Aristiya Dewi Anggraeni

    Asal           : SMA N 4 Denpasar

    20. Sepotong Puisi Chairil Anwar

    Karya         : Ratih Astiti

    Asal           : Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Universitas Udayana

    10 Karya terbaik Workshop Cerita Mini Fringe Event UWRF 2009

    Posted in Agenda pada 6:38 am oleh Komunitas Sahaja

    Dia

    Karya : I Putu Agus Sutrarama

    Asal     : Tabanan

    Kembali

    Karya : I Putu Agus Sutrarama

    Asal     : Tabanan
    Ada Hantu
    Karya : I Putu Agus Sutrarama

    Asal     : Tabanan

    (Tanpa judul)

    Karya   : Ratna Aristiya Dewi Anggraeni

    Asal     : SMA N 4 Denpasar

    Taman tanpa Bunga

    Karya : Nandiari Nugrahaeni Ni Luh Putu

    Asal     : Kediri, Tabanan

    Stalaktit

    Karya : I Putu Sanrio Sutandi

    Asal     : Denpasar

    Teratai

    Karya : I Gst Agung Ayu Kuntianthari
    Asal     : jl. Gandapura 1c no.3 dps

    Cerita Mini :

    Karya : Elta Wirawan

    Asal     : Mahasiswa Faksas Unud

    HILANG

    Karya   : Vanesa Martida

    Asal     : SMA N 5 Denpasar

    CER.MIN

    Terduduk aku, merenungi semua kesialan-kesialanku. Targetku tahun ini tak tercapai. Ingin rasanya aku teriak menumpahkan uneg-uneg yang penuh kecewa dan marah. Kulempar kaleng minuman yang sedari tadi kupegang.

    “Ouch..” Seseorang meringis. Ternyata kalengku mengenai kepala seorang bapak yang puntung kakinya tampak kewalahan berjalan ke arahku sambil membopong sebuah karung di bahunya. “Nak kalengnya buat bapak ya?” Begitu katanya sambil tersenyum. Senyumnya ramah. Wajahnya bersahaja. Aku mengangguk pelan melihat bapak yang terseok itu berjalan.

    September 18, 2009

    Ketentuan Workshop Fringe Event UWRF 2009

    Posted in Agenda pada 6:34 am oleh Komunitas Sahaja

    Ketentuan Workshop Menulis Puisi dan Cerita Mini

    1. Peserta Workshop Menulis Puisi dan Cerita Mini Fringe Event Ubud Writers and Readers Festival 2009 sebelumnya sudah melakukan konfirmasi pada panitia
    2. Peserta Workshop Menulis Puisi dan Cerita Mini Fringe Event Ubud Writers and Readers Festival 2009 ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apapun (free)
    3. Peserta wajib membawa minimal 2 (dua) buah puisi dan cerita mini karya pribadi baik yang sudah pernah dipublikasikan maupun belum.
    4. Peserta diharapkan hadir 15 (lima belas) menit sebelum acara dimulai.
    5. Setiap peserta akan memperoleh piagam keikutsertaan yang berskala internasional.
    6. Narasumber akan menentukan 20 puisi dan 10 cerita mini terpilih yang akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan selama acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 berlangsung serta diprogramkan untuk dibukukan.
    7. Penulis puisi dan cerita mini terbaik akan diundang khusus untuk membacakan karyanya pada saat acara Pertunjukkan Apresiasi Sastra ”An Evening of Words and Sound of Poem” pada Jumat, 9 Oktober 2009 di Wantilan Taman Budaya Provinsi Bali.

    September 13, 2009

    Ubud Writers and Reader Festival di Denpasar

    Posted in Agenda pada 11:21 am oleh Komunitas Sahaja

    Fringe Event Ubud Writers and Readers Festival 2009Selain sebagai sarana ekspresi, dan kreasi, kini sudah tiba saatnya untuk menjadikan kegiatan bersastra sebagai salah satu media pembelajaran serta pendidikan yang strategis. Ini dikarenakan dalam berbagai aktivitas kebahasaan ini, yang patut dikedepankan bukan lagi semata perihal bagaimana mencipta karya yang kreatif sekaligus inovatif, ataupun juga menemukan bentuk-bentuk apresiasi yang mungkin dikembangkan, namun sejalan dengan itu, yang tak kalah pentingnya, ialah bagaimana membangun sikap kritis yang penuh empati pada masing-masing individu pecintanya.

    Terlebih lagi, menimbang berbagai dampak negatif arus globalisasi serta kecenderungan kosmopolitan yang perlahan diadopsi masyarakat lantaran dianggap sebagai wujud nyata dari kemajuan kekinian, maka kebutuhan akan suatu langkah dan program filterisasi pun sudah tak terhindarkan lagi. Dan sastra boleh jadi merupakan salah satu jalan keluar yang dapat ditempuh—tentu apabila fungsi edukasi kritis dan empati yang sebelumnya telah dipaparkan sedemikian rupa dipahami dan dihayati.

    Untuk itulah, Komunitas Sahaja menyambut baik rencana Panitia Ubud Writers And Readers Festival (UWRF) untuk bekerjasama mengadakan sebuah program susastra di Denpasar, yaitu Fringe Event UWRF. Dengan mengambil topik “Membangun Generasi Muda yang Kreatif: Sebuah Upaya Memasyarakatkan Sastra” sebagai respon atas tema utama acara UWRF 2009 yakni “Suka Duka: Compassion and Solidarity”, diharapkan kegiatan dapat turut memberikan pengalaman kreatif bagi generasi muda di Denpasar serta mendorong sikap kritis serta empati para remaja dengan mengedepankan semangat pembelajaran bersama.

    Guna memenuhi tujuan tersebut, ada beberapa mata acara yang akan diselenggarakan, yakni Workshop Puisi dan Cerita Mini, Talkshow, Diskusi Kreatif dengan penulis-penulis Muda Indonesia serta Program Apresiasi Sastra. Kegiatan-kegiatan ini dijadwalkan berlangsung mulai 26 September 2009 hingga 11 Oktober 2009.

    Guna mewujudkan tujuan di atas, ada beberapa program yang akan diselenggarakan, antara lain:

    1. 1. Workshop Menulis Puisi

    Kegiatan ini akan diikuti oleh siswa-siswi SMP, SMA, Mahasiswa, masyarakat umum, serta pencinta dan penggiat sastra di Denpasar.

    Bentuk Workshop Menulis Puisi ini berupa dialog dua arah antara narasumber dengan para peserta. Di samping itu, kegiatan ini juga akan diselingi oleh pembacaan puisi dan pementasan musikalisasi puisi. Pada bagian akhir acara, akan diselenggarakan penulisan puisi bersama, di mana para peserta diharapkan dapat mencipta puisi dengan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama program workshop ini.

    Direncanakan, 20 puisi terpilih hasil karya peserta akan dipublikasikan selama acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 berlangsung. Tak hanya itu, peserta dengan puisi terbaik akan diundang secara khusus untuk membacakan karyanya dalam Program Apresiasi Sastra An Evening of Words and Sound of Poem” pada Jumat, 9 Oktober 2009.

    Kegiatan ini dijadwalkan pada:

    Hari, tanggal                 : Sabtu, 26 September 2009

    Waktu                          :17.00-selesai

    Tempat             : Wantilan Museum Sidik Jari Denpasar

    1. 2. Workshop Menulis Cerita Mini

    Sebagaimana Workshop Menulis Puisi, kegiatan ini pun akan diikuti oleh siswa-siswi SMP, SMA, Mahasiswa, masyarakat umum, serta pencinta dan penggiat sastra di Denpasar.

    Di samping diskusi kreatif mengenai kiat-kiat penulisan cerita mini oleh sastrawan ternama di Bali, dalam kegiatan ini akan diselenggarakan pula pertunjukan monolog, serta dramatisasi cerpen.

    Sebanyak 10 cerita mini terpilih karya para peserta juga akan dipublikasikan pada kegiatan-kegiatan Ubud Writers and Readers Festival. Dan peserta dengan karya terbaik akan diundang secara khusus untuk membacakan cerita mininya pada acara An Evening of Words and Sound of Poem, Jumat, 9 Oktober 2009.

    Program ini dijadwalkan pada:

    Hari, tanggal                 : Minggu, 27 September 2009

    Waktu                          : 17.00-selesai

    Tempat             : Wantilan Museum Sidik Jari Denpasar

    1. Diskusi Kreatif Bersama Para Penulis Muda Indonesia

    Kegiatan ini akan diikuti oleh para pelajar baik siswa/siswi SMP, SMA, maupun  Mahasiswa serta pencinta dan penggiat sastra di Denpasar.

    Dalam diskusi ini, akan hadir 2 (dua) Penulis Muda Indonesia yang akan berbagi pengetahuan serta pengalaman-pengalaman kreatifnya selama bergelut dalam dunia penulisan. Bentuk kegiatan ini lebih berupa dialog dua arah antara peserta dan narasumber dengan harapan dapat lebih memasyarakatkan sastra di kalangan remaja.

    Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada:

    Hari, tanggal                 : Kamis, 8 Oktober 2009

    Waktu                          : 09.00 – 12.00

    Tempat             : Gedung Widyasabha, Fakultas Sastra

    Universitas Udayana

    1. 4. Program Apresiasi Sastra

    Sebagaimana kegiatan sebelumnya, program Apresiasi Sastra ini pun akan diikuti   oleh pelajar baik SMP, SMA, maupun Mahasiswa serta masyarakat umum, pencinta sastra dan teater di Bali.

    Kegiatan yang mengambil tajuk ”Malam Puisi Bunyi dan Kata”, An Evening of The Words and Sound of Poems merupakan sebuah malam perayaan apresiasi sastra dengan dipentaskannya beberapa bentuk pertunjukan yakni Eksplorasi atas Kata, Suara dan Rupa.

    Eksplorasi atas Kata, Suara dan Rupa merupakan suatu pertunjukan yang mencoba memadukan beberapa unsur yang tetap mengedepankan keindahan putika. Adapun sesuatu yang hendak dicapai yakni sebuah perenungan yang indah dan penuh hikmah. Di samping itu, akan dipentaskan pula pembacaan puisi dan cerita mini terpilih, pertunjukan monolog serta pementasan teater.

    Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada:

    Hari, tanggal                 : Jumat, 9 Oktober 2009

    Waktu                          : 19.00 – 21.00

    Tempat             : Wantilan Taman Budaya Prov. Bali

    1. 5. Talkshow

    Di samping program workshop penulisan kreatif, akan diselenggarakan pula sebuah Talkshow dengan tema ”Peran Komunitas Sastra dalam Upaya Turut Mengembangkan Sikap Kreatif Masyarakat”. Di samping membahas mengenai pentingnya peran komunitas sastra dalam mengembangkan kreativitas serta sikap kritis masyarakat, dalam dialog ini juga akan didiskusikan mengenai pentingnya museum serta lembaga-lembaga kebudayaan lainnya dalam upaya pendokumentasian hasil  seni dan budaya, termasuk di dalamnya karya-karya sastra. Pada akhir acara, akan diselenggarakan pula sebuah pertunjukan monolog dan pementasan musik.

    Sasaran kegiatan ini adalah para pelajar, baik siswa SMP, SMA, maupun Mahasiswa, serta masyarakat umum dan pecinta sastra di Denpasar.

    Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada:

    Hari, tanggal                 : Minggu, 11 Oktober 2009

    Waktu                               : 10.00 – 12.30

    Tempat                            : Wantilan Museum Sidik Jari Denpasar.

    Untuk info lebih lanjut, silakan konfirmasi via email ke komunitas.sahaja@yahoo.com, atau ke 085 737 229 256 (Panitia Fringe Event, Rastiti)

    Juli 14, 2009

    Dialog Budaya dan Peluncuran Buku ‘Hans Magnus Enzensberger’

    Posted in Agenda pada 4:46 am oleh Komunitas Sahaja

    Bekerjasama dengan Goethe Institut Jakarta, pertengahan Agustus 2009, Komunitas Sahaja akan menyelenggarakan sebuah acara Dialog Budaya dan Peluncuran Buku karya Hans Magnus Enzensberger, salah satu penyair mumpuni Jerman. Menampilkan dua pembicara yang juga sekaligus penerjemah karya Enzensberger dari bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, yakni Berthold Damshauser (Jerman) dan Agus R. Sarjono (Indonesia).

    Buku Kumpulan Puisi karya Hans Magnus Enzensberger ini merupakan upaya penerbitan Seri Puisi Jerman yang kelima. Acara akan dilaksanakan pada:

    Sabtu, 15 Agustus 2009

    Pukul 19.00 – 21.00 WITA

    di Studio Ramayana, Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar, Jalan Hayam Wuruk 70 Denpasar, Bali

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Rastiti (087860947414) atau via email ke komunitas.sahaja@yahoo.com

    Laman berikutnya