April 20, 2010

FILM MUSIKAL OSCAR DI BENTARA BUDAYA BALI

Posted in Agenda pada 2:56 pm oleh Komunitas Sahaja

Sebuah film, sebagaimana karya-karya seni lainnya, tidak hanya dipandang mampu memberikan pengalaman kreatif dan estetik bagi pemirsanya, namun juga dapat menjadi cerminan atas kehidupan serta problematik keseharian kita. Hal ini dapat disimak dalam tayangan film-film musikal peraih Piala Oscar (Academy Award) yang akan digelar Bentara Budaya Bali, bekerjasama dengan Komunitas Sahaja dan Udayana Scientific Club, pada Jumat dan Sabtu, 23-24 April 2010 mendatang. Acara ini akan diselenggarakan sedari pukul 16.00 WITA di Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass Prof. Mantra No. 88 A, Ketewel, Gianyar.

”Sebelumnya, sedari bulan Januari hingga Maret kemarin, telah diputar film-film karya sineas-sineas Iran, Cina, juga film-film dari Giuseppe Tornatore (Italia). Untuk agenda yang keempat di tahun 2010 ini, sengaja diputarkan film-film dari sutradara-sutradara Amerika mumpuni. Tujuannya adalah guna menghadirkan kepada publik salah satu sisi dunia perfilman Amerika, yang selama ini hanya dikenal sebagai negara industri film yang cenderung mengandung unsur hero dan melodrama melalui produksi-produksi Hollywoodnya,” ujar Sri Puspita dan Novianti Sri Cahyani, koordinator acara ini.

Film-film yang akan digelar oleh Bentara Budaya Bali kali ini merupakan hasil karya yang diproduksi sedari tahun 1950 hingga 2000-an, semisal An American in Paris (1951) garapan sutradara Vincente Minnelli, Mary Poppins (1964) yang dibintangi oleh Aktris Terbaik dalam Academy Award, Julie Andrews. Kedua film ini akan diputar pada Jumat, 23 April 2010.

Tayangan karya Bob Fosse, Cabaret (1972), yang meraih delapan Oscar, juga akan ditampilkan pada hari kedua acara pemutaran film Bentara Budaya Bali. Sebagai penutup, dihadirkan salah satu film besar Amerika, Chicago (2002), yang merupakan adaptasi dari lakon Amerika tersohor, Broadway. Film ini disutradarai oleh Bob Fosse, yang kemudian disempurnakan kembali oleh sineas Amerika terkenal, Rob Marshall, dengan aktor serta aktris mumpuni, Chaterine Zeta Jones serta Richard Gere.

”Selain menggelar pemutaran film, acara ini juga akan dilanjutkan dengan diskusi yang memberikan ruang bagi hadirin untuk dapat membagikan pengalaman kreatifnya selama kegiatan ini berlangsung,” ujar Sri Puspita.

”Ke depan, di samping melakukan kegiatan serupa secara berkelanjutan, Bentara Budaya Bali juga akan mengagendakan workshop film, yang menghadirkan penggiat film Indonesia mumpuni,” tambah Novi.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 23 April 2010

  • An American in Paris (1951)

Sinopsis:

An American in Paris (1951) adalah film produksi MGM, salah satu industri film ternama Amerika. Film musikal ini terinspirasi oleh komposisi orkestra yang ditampilkan pada tahun 1928 oleh Goerge Gershwin. Dibintangi oleh Gene Kelly, Leslie Caron serta Oscar Lavent, di bawah arahan sutradara Vincente Minelli, film ini mengambil setting di Paris. Adegan-adegannya ditampilkan dengan sedemikian memukau, dengan paduan musik orkestra serta tari balet yang sungguh indah. Karenanya, film ini pun layak dianugerahi enam piala Oscar (Academy Award) pada masanya.

Film ini berkisah tentang Jerry Mulligan (Gene Kelly), seorang veteran Amerika semasa perang dunia II, yang kini menjadi ekspartriat di kota Paris, Perancis. Di negeri Eropa inilah ia mencoba untuk menjadi seorang pelukis, yang bersahabat dengan pianis konser, Adam (Oscar Levant) yang berjuang mempertahankan idealismenya bersama rekan penyanyinya, Henri Baurel (George Guétary).

Kisahan menjadi lebih menarik lagi  setelah Jerry berjumpa dengan Milo Roberts (Nina Foch), seorang gadis yang amat merindukan kehangatan persahabatan, keindahan, serta cinta yang suci. Namun, Jerry malahan tidak menyadari perasaan cintanya, dan memilih mencintai perempuan lain, Lise (Leslie Caron), seorang dara Perancis yang jelita.

Kisah cinta mereka tak berjalan dengan baik. Pada bagian kisahan selanjutnya, hadirin akan dibuat terhenyak begitu menyadari bahwa Leslie ternyata telah menjalin affair dengan Henri lantaran merasa berhutang budi kepada sang biduan tersebut sebagai ungkapan terimakasih telah menyelamatkan keluarganya dari tragedi Perang Dunia II. Malang tak dapat ditolak, Jerry yang tak menyadari hal itu sebelumnya harus menghadapi kenyataan bahwa pujaan hatinya akan menikahi Henri si penyanyi. Sementara itu, Milo, yang putus asa, tak dapat berbuat apa-apa untuk meraih kebahagiaan yang diimpikannya—yakni meraih cinta Jerry.

Adegan penutup An American in Paris sungguh amat mengharukan. Setelah memahami kejadian pelik yang dialaminya, Jerry seketika merasa gamang. Dengan iringan orkestra yang memukau, Jerry melamunkan wajah kota Paris, membayangkan masa lalu, dan harapan akan masa depannya yang pupus di tengah jalan.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Mary Poppins (1964)

Sinopsis:

Diproduksi pada tahun 1964 oleh Walt Disney, Mary Poppins adalah sebuah film musikal yang dibintangi oleh Julie Andrews dan Dick Dyke. Film klasik ini disutradarai oleh sineas Amerika tersohor Robert Stevenson, di mana penulis naskahnya ialah Bill Walsh dan Don DaGardi. Film ini bahkan telah dinominasikan pada 13 kategori dalam Piala Oscar, serta berhasil menyabet 5 penghargaan tersebut, salah satunya untuk kategori Aktris Terbaik (Julie Andrews).

Cerita film ini bermula dari Mary Poppins (Julie Andrews) yang membayangkan dirinya melayang riang di langit musim semi London di tahun 1910. Namun, sekilas adegan pembukaannya, kisahan seakan ‘dibumikan’ dengan gambaran peristiwa sebuah taman, di mana Bert (Dick van Dyke), yang tengah memainkan sebuah pertunjukan musik tunggal di salah satu pintu masuknya. Setelah adegan musik yang menyentuh itu, cerita segera beralih pada kehidupan keluarga Tuan Banks (David Tomlinson), di mana pada keluarga inilah Mary Poppins kemudian bekerja sebagai pengasuh anak-anaknya.

Sungguh tak mudah bagi Mary untuk memenuhi tugas-tugasnya. Tuan Banks begitu dingin serta bersikap acuh tak acuh pada segala hal. Sementara itu, putra-putrinya sedemikian bandel dan betul-betul kepala batu. Istri majikannya, Nyonya Banks (Glynis Johns) pun tak kalah sinis terhadap Mary, sang pengasuh baru itu.

Namun Mary tak kenal menyerah. Dengan sabar, ia memberikan cara pandang yang lain terhadap putra-putri keluarga Banks, mengajarkan mereka untuk memahami dan menghayati kebahagiaan, berimajinasi dan menemukan hal-hal tak terduga dalam hidup mereka. Dengan menggunakan idiom layang-layang sebagai makna cinta dalam keluarga, anak-anak mulai mengerti sedikit demi sedikit akan betapa pentingnya kehidupan keluarga yang penuh tawa dan canda.

Film ini ditampilkan dengan amat menyentuh, mengajak pemirsanya untuk tidak hanya bergembira bersama dengan iringan musik dan lagu yang indah, namun juga merenungi kembali makna keseharian serta menemukan keindahan kebahagiaan.

Detail Info Film Klik di Sini.

Sabtu, 24 April 2010

  • Cabaret (1972)

Sinopsis:

Film ini mengisahkan tentang Sally Bowles, (Liza Minneli), seorang penyanyi kelas dua yang bermukim di Jerman sebelum Perang Dunia II. Impiannya hanya satu: menjadi bintang biduan yang kaya raya. Sambil mengangankan harapannya itu, Sally menghabiskan hari-harinya dengan menjadi seorang penyanyi di kabaret Kit-Kat, bar kumuh di mana pengunjungnya hanyalah sekumpulan orang-orang yang miskin dan cenderung perilaku tak senonoh.

Sally kemudian berjumpa dengan Brian Roberts (Michael York), pemuda tampan namun miskin yang juga diasingkan oleh kehidupan sosialnya. Selama ini Brian berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengajarkan bahasa Inggris seraya mencoba menyelesaikan studinya di Jerman. Sia-sia saja Sally merayu dan melemparkan isyarat cinta pada Brian, hingga akhirnya, dengan saking jengkelnya, Sally pun berkesimpulan bahwa Brian pastilah seorang gay.

Selama film ini diputar, pemirsa dapat dengan kentara menemukan betapa kentalnya kehidupan sosialis ala NAZI di dalamnya. Adegan gosip dan gunjingan ditampilkan dengan apik, sehingga kian menegaskan pengaruh ide-ide rasisme yang boleh jadi juga mencerminkan kehidupan masyarakat Jerman masa itu.

Sally memiliki seorang sahabat, Maximilian von Heune (Helmut Griem), seorang bangsawan kaya raya. Sewaktu melihat sosok lelaki ini, segera saja Sally membayangkan adegan percintaan dengan Max si bangsawan, tentu saja dengan sedikit angan-angan tentang wajah Brian. Kisahan menjadi makin menarik setelah Sally mengaku kepada Brian bahwa dirinya telah bercinta dengan Max. Pernyataan ini disambut dengan tawa sinis Brian, yang membalas bahwa dirinya juga telah tidur dengan Max.

Pada bagian berikutnya, Sally menyadari bahwa dirinya hamil. Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba ia memutuskan untuk melakukan aborsi. Kenyataan ini agaknya mengubah pandangan Sally dan Brian. Di tengah kehidupan yang kian pelik, dengan situasi sosial dan politik yang tak mudah, Brian mesti mengambil sikap: bertolak ke Inggris dan meninggalkan Jerman selamanya. Sementara itu, Sally bertahan di negeri Eropa itu, menyanyikan lagu pada hadirin yang mulai menghargai talentanya.

Namun adegan penutup agaknya memberikan indikasi yang berbeda. Pemirsa tentu tak akan menduga, bahwa di ujung cerita, Sally mesti menghadapi kenyataan di mana kabaret tempatnya bekerja mesti ditutup oleh sepasukan serdadu NAZI. Adakah ini kenyataan politik yang memupuskan harapan, ataukah titik tolak baru akan lahirnya angan-angan yang lain, pemirsalah yang menilainya.

Film yang dirilis tahun 1972 ini disutradarai oleh Bob Fosse. Film musikal ini meraih delapan penghargaan Oscar, salah satunya adalah penyutradaraan terbaik.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Chicago (2002)

Sinopsis:

Chicago (2002) adalah film Amerika musikal yang diadaptasi dari naskah satir khas Broadway yang bertajuk serupa. Film ini mengeksplorasi dengan apik beragam tema yang pelik, semisal selebritas, skandal, serta korupsi, yang dipadukan dengan gaya jazz ala kota Chicago.

Disutradarai oleh Rob Marshall, film ini berkisah tentang kehidupan kota Chicago pada tahun 1927. Cerita dimulai oleh Roxie Hart mengunjungi klub malam, di mana bintang Velma Kelly melakukan pertunjukan All That Jazz bersama Fred Casely. Kedatangannya dipenuhi dengan harapan dan rencana, yakni melihat gelagat sekitar, mencari dengan siapa ia dapat menjalin affair, yang giliran berikutnya dapat menjadi batu loncatannya meraih sukses sebagai bintang vaudeville.

Tanpa dinyana, kehadirannya di tempat pertunjukan tersebut seketika mengubah jalan hidupnya. Seusai pertunjukan, Velma ditangkap karena dituduh membunuh suaminya yang berselingkuh dengan adiknya, Veronica, sesaat setelah Velma menemukan mereka di tempat tidur bersama. Sebulan kemudian, Fred menyatakan bahwa ia menyatakan kepada Roxie bahwa dirinya berbohong tentang koneksi di bisnis pertunjukan hanya demi menginginkan tubuh Roxie semata. Mengetahui hal ini, Roxie yang diliputi amarah pun menembak Fred tiga kali.

Malang bagi Roxie tak hanya berhenti di situ. Dengan tipu daya suaminya yang naif, Amos, dirinya dijebloskan ke penjara. Di sanalah Velma dan Roxie bertemu, berada dalam kehidupan yang sulit di mana mereka mesti menghadapi sipir penjara yang korup. Di sana pula mereka belajar akan makna kehidupan dan mencoba bertahan untuk meraih impian. Mereka tumbuh menjadi pribadi bertanggung-jawab yang berhasil memetik pelajaran dari pengalaman sesama napi di bui tersebut.

Selama itu pula, Roxie berupaya menemukan upaya guna mengembalikan nama baiknya. Dengan bantuan Billy Flynn, pengacara Velma, ia mencoba membuat kenyataan palsu tentang kehidupan, bahkan juga kehamilannya untuk membuat suaminya, Amos, tersudutkan. Setelah kenyataan yang dimanipulasi itu, Roxie pun memperoleh publisitas dan seakan hampir meraih harapannya untuk bebas dan tenar.

Info Detail Film Klik di Sini.

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Remaja dan Dewasa. Apabila diperlukan, setiap peserta memperoleh sertifikat.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: