Desember 6, 2010

Dialog Sastra dan Peluncuran Novel Karya Martin Jankowski: RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN DI BALI

Posted in Tak Berkategori pada 7:28 am oleh Komunitas Sahaja

 

Suasana musim gugur Kota Leipzig, Jerman, menjelang jatuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, akan dihadirkan di Bali melalui novel terkini Martin Jankowski yang akan diluncurkan pada 10 Desember 2010 mendatang.

Lewat acara diskusi yang mengambil tajuk serupa dengan judul karyanya, ‘Rabet, Runtuhnya Jerman Timur’, Martin yang juga penyair kelahiran Greifswald, kawasan Laut Baltik, Eropa, ini akan tampil memperbincangkan perkembangan kesusastraan Jerman dan Indonesia sekaligus peran sastra dalam pendidikan masyarakat, di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, dimulai pukul 08.30 WITA. Tak hanya itu, penulis yang sebelumnya telah menerbitkan antologi puisi “Detik-Detik Indonesia” yang sebagian besar memotret kehidupan kultur serta sosial negeri Indonesia dan juga Pulau Bali ini, akan mendiskusikan kaitan antara sastra dan sejarah sebuah bangsa sekaligus refleksinya terhadap kekinian di Bentara Budaya Bali pada acara Sandyakala Sastra seri ke 6, pukul 18.00 WITA, masih pada hari yang sama.

Novel ini berkisah tentang detik-detik menjelang peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, sebagai penanda jatuhnya Negara Jerman Timur yang berhaluan ideologi sosialis. Lewat bukunya ini, Martin Jankowski, yang juga terlibat dalam peristiwa demonstasi besar-besaran menentang otokrasi Pemerintah Jerman Timur ini, tidak semata menuturkan kisah-kisah pergulatan politik yang dialami penulisnya, namun juga berupaya menghadirkan kenyataan sejarah secara lebih manusiawi dalam bahasa estetika sastrawi nan puitik.

“Tentulah, diskusi terkait novel karya Martin Jankowski beserta refleksinya terhadap sejarah serta kultur kesusastraan salah satu bangsa Eropa ini dapat menjadi materi pembelajaran yang penting, tidak hanya bagi peserta didik di Fakultas ini, namun juga generasi muda Bali secara keseluruhan. Saya kira, diskusi-diskusi seperti ini tidak semata memperkenalkan khazanah kebudayaan luar Nusantara, namun sekaligus juga dapat menjadi sebentuk studi perbandingan yang strategis demi perkembangan kehidupan sastra di Bali, dan juga Indonesia,” ujar Pembantu Dekan III Fakultas Sastra Universitas Udayana, Drs. I Wayan Sama, M.Hum.

Senada dengan Wayan Sama, Koordinator Acara di Bali, Ni Ketut Sudiani, juga menyampaikan bahwa diskusi sastra seperti ini hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, dengan menghadirkan penulis-penulis mumpuni dan mengangkat tema-tema lebih beragam, yang pelaksanaannya didukung dari berbagai pihak. “Program Dialog dan Peluncuran Buku ini sendiri telah digelar di berbagai kota di Indonesia, seperti Banda Aceh, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Papua,” ujar Ni Ketut Sudiani seraya menambahkan bahwa kegiatan di Bali ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Sahaja, Fakultas Sastra Universitas Udayana serta Bentara Budaya Bali, sebuah ruang publik kebudayaan bagian dari Keluarga Besar Kompas-Gramedia.

Di samping dikenal sebagai penulis dan penyair, yang semasa tahun 1980-an peredaran karya-karyanya dilarang oleh Stasi (Polisi Rahasia Jerman Timur) Martin Jankowski adalah juga penulis lirik lagu untuk gerakan bawah tanah kaum opisisi Leipzig. Setelah runtuhnya kuasa pemerintah dan jatuhnya Tembok Berlin, Martin mulai aktif kembali menerbitkan tulisan-tulisannya, baik berupa esai, cerpen, novel dan karya-karya non fiksi.

Diskusi sastra mendatang ini tidak hanya diperkaya oleh kehadiran penulisnya untuk berbagi pengalaman kreatif, namun juga dimaknai oleh pementasan apresiasi sastra dari penyair dan penggiat sastra di Bali. “Bolehlah dikata, dialog ini bukan hanya dapat dipandang sebagai sebuah refleksi terhadap sastra Jerman maupun Indonesia, melainkan juga upaya untuk menghargai sejarah masa lampau serta memaknai kekinian dan masa depan kita,” ujar Wayan Sama.

 

November 18, 2010

Film-film karya Roman Polanski akan diputar di Bentara Budaya Bali

Posted in Tak Berkategori pada 4:23 pm oleh Komunitas Sahaja

Kawan-kawan, bulan ini, untuk ke sepuluh kalinya, Bentara Budaya Bali dan Komunitas Sahaja kembali menggelar pemutaran film. Adapun film yang akan ditayangkan pada tanggal 26 dan 27 November 2010 ini adalah karya Roman Polanski. Karya-karyanya meraih banyak penghargaan di antaranya 1992 Laurence Olivier Award for Best New Play 1992 Laurence Olivier Award untuk Best New Play dan Palme d’Or di Festival Film Cannes.

Siapakah Roman Polanski? Berikut sedikit cuplikan tentang kisah hidup sang sutradara itu.

Jika sampai Roman Polanski ikut terbunuh di ghetto atau kamp konsentrasi Nazi, seperti halnya ibunya yang tewas di Auschwitz, dunia perfilman internasional akan kehilangan salah satu sutradara terbaik yang pernah ada di dunia. Dengan pendekatannya yang kelam dan muram, bahkan nihilistik dalam bertutur, Roman Polanski telah menorehkan tanda yang tak terhapuskan dalam perfilman dunia. Film-filmnya memang sempat dibandingkan dengan film-film thriller Alfred Hitchcock, namun Polanski justru lebih kaya karena ia bereksperimen  dengan aneka genre film. Tak berlebihan jika Polanski memandang dirinya sendiri sebagai “playboy sinema”. Dalam kehidupan nyata, ia kebetulan juga dikenal sebagai pria yang amat menggemari kecantikan perempuan.

Roman Polanski, lahir di Paris pada 18 Agustus 1933 dari pasangan Yahudi Polandia dan imigran Rusia. Ketika ia berusia tiga tahun, keluarganya pindah ke kota Krakow, Polandia. Celakanya, Jerman menginvasi kota itu pada tahun 1940. Setelah dikurung dalam ghetto, keluarganya  pun kemudian dideportasi ke kamp konsentrasi. Untunglah, bocah Polanski berhasil dibantu ayahnya untuk melarikan diri, dan diselamatkan oleh keluarga-keluarga Katolik. Pada periode inilah Polanski mulai tergila-gila pada film. Ia sering mencari perlindungan di gedung-gedung bioskop, yang seolah merupakan tempatnya berlindung dari kekejian dunia luar.

Polanski sempat dibawa pulang ke Krakow oleh ayahnya yang menikah lagi, sepeninggal ibunya yang terbunuh di kamp konsentrasi Auschwitz yang terkenal paling banyak memusnahkan warga Yahudi. Polanski remaja kemudian meninggalkan rumah, namun kendati ia masih harus mengatasi kecamuk kepribadian, ia tetap memupuk kecintaannya pada film. Cuma sempat setahun masuk di sekolah teknik, tahun 1950 Polanski masuk ke sekolah film. Tahun 1954 ia untuk pertama kali bermain di film arahan Andrze Wajda. Tahun itu juga ia terpilih masuk mengikuti pendidikan sutradara di sekolah film nasional di Lodz yang amat bergengsi. Setelah lulus tahun 1961, tahun berikutnya Polanski membuat film cerita pertamanya, Knife in the Water (94 menit), sebuah drama psikologis dan satu-satunya film panjang yang dibuatnya di Polandia.

Film tersebut dan tiga film menarik lainnya yakni The Tenant, Death and the Maiden, dan The Pianist bisa teman-teman saksikan pada pemutaran film kali ini. Di samping itu, akan hadir pula Madya Padma SMA N 3 Denpasar, young filmmaker, yang akan berbagi informasi kepada kita semua tentang pengalaman-pengaman mereka selama menggeluti dunia perfilman, khususnya film dokumenter. Akan hadir juga Bapak Adnyana, penggiat film, yang akan bercerita tentang proses kreatif pembuatan film.

Penasaran dengan film-film karya Roman Polanski? Ingin tahu kreatifitas anak-anak Madya Padma? Mau tahu tentang proses kreatif pembuatan film? Silakan datang dan ajak teman-teman lainnya ke Bentara Budaya pada jumat dan sabtu mendatang.

Sampai berjumpa…

Salam,

Komunitas Sahaja

CP :

081 916 286 199

081 805 470 801

Jadwal Pemutaran Film :

Jumat, 26 November 2010

16.30   : Knife in the Water

18.30   : The Tenant

Sabtu, 27 November 2010

16.30   : Death and the Maiden

18.30   : The Pianist

Posted in Tak Berkategori pada 1:34 pm oleh Komunitas Sahaja

Sahabat-sahabat semua, kemarin ada bantuan pakaian dari teman kita Ketut Suartini dan Kadek Juniyanti. Oh ya, semua bantuan yang terkumpul, yakni berupa pakaian, beras, mie, aqua, perlengkapan MCK, dan masker sudah diberangkatkan. Sekali lagi, terima kasih kami ucapkan atas sumbangan yang kawan-kawan berikan.

Pada tahap kedua, yakni ‘masa pemulihan’, teman-teman dapat menyumbangkan buku cerita, alat-alat tulis, dan bahan-bahan makanan juga masih bisa. Terima kasih ya….

salam,
KS

November 16, 2010

Posted in Tak Berkategori pada 1:18 pm oleh Komunitas Sahaja

Kawan-kawan, hari ini ada sumbangan lagi berupa pakaian dari Oka Sudarsana dan Adhi Kusumajaya. Terima kasih banyak ya….Bantuan teman-teman pasti sangat bermanfaat untuk saudara-saudara kita di sana…… 

Kami infokan kembali, bagi kawan-kawan yang hendak menyumbang, bisa disalurkan ke Museum Sidik Jari. Kami posko dari pukul 3 siang hingga 7 malam…….

salam,
KS

November 14, 2010

Posted in Tak Berkategori pada 1:06 pm oleh Komunitas Sahaja

Teman-teman, sumbangan yang terkumpul hari ini sejumlah Rp 150.000,00 dari Elisabet (Jurusan Matematika FMIPA Unud, Rp 50.000,00), dan Wayan Larianto (Rp 100.000,00). Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur. 

Bagi kawan-kawan yang hendak memberikan uluran keprihatinan, silakan menyalurkannya ke Museum Sidik Jari. Sekecil apapun bantuan kita, sangat berharga untuk saudara-saudara di sana.

salam hangat
KS

November 13, 2010

Posted in Tak Berkategori pada 1:54 pm oleh Komunitas Sahaja

Teman-teman, terima kasih atas partisipasinya ya, sumbangan tersebut tentu sangat berharga untuk saudara-saudara kita di sana.  Hingga hari ini, ada sudah ada beberapa bantuan yang terkumpul di antaranya dari :

BPM Fakultas Sastra Unud : Baju dan Mie Kardus
Senat Fakultas Sastra Unud : Baju, Mie Kardus  dan Aqua
HMJ Sastra Jepang Unud : Baju, Masker, dan Perlengkapan wanita
HMJ Sastra Inggris Unud : Baju
HMJ Sastra Indonesia Unud : Baju
HMJ Sastra Bali Unud : Baju, Mie Kardus, dan Beras
HMJ Sastra Jawa Kuno Unud : Mie Kardus dan Beras
HMJ Antropologi Unud : Baju
HMJ Arkeologi Unud : Baju

HMJ Sejarah Unud : Baju
Himaprodi D3 Jepang Unud : Baju
Himaprodi D3 Inggris Unud : Peralatan MCK
Citra (SMA N 5 Denpasar) : Pakaian bebas
Komunitas Sahaja : Rp 750.000,00

Bagi kawan-kawan yang hendak turut menyumbang, bantuannya masih bisa disalurkan ke Museum Sidik Jari. Sekali lagi terima kasih banyak…..

salam hangat
komunitas sahaja

November 11, 2010

Posko Muda Bali Tanggap Bencana : Sebuah Uluran Keprihatinan

Posted in Tak Berkategori pada 5:27 am oleh Komunitas Sahaja

Kita bersama tengah menghadapi cobaan yang berat. Bencana alam datang beruntun, mulai dari banjir bandang Wasior, disusul gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Mentawai, dan beberapa waktu lalu erupsi Gunung Merapi menelan korban yang tak sedikit di Sleman, Jogjakarta. Sudah hampir sebulan saudara-saudara kita menjalani kehidupan di pengungsian, tak sedikit yang kehilangan materi dan sanak saudara yang dicintai.
Dengan semangat dasar hendak membantu meringankan beban para korban serta sebagai bentuk kepedulian dan mempererat tali persaudaraan, generasi muda Bali membuka “Posko Muda Bali Tanggap Bencana”. Sebagai generasi muda, atas kecintaan pada kemanusiaan, kita memiliki tanggungjawab moral untuk membantu dan berbagi terhadap sesama, termasuk sigap dan tanggap mengambil tindakan dalam menghadapi bencana. Uluran tangan para generasi muda tentu sangat berharga bagi saudara-saudara kita di seberang sana.

Sampai saat ini, para pengungsi masih membutuhkan uluran sumbangan baik berupa keperluan sandang seperti pakaian (termasuk pakaian dalam), pembalut wanita, popok bayi, selimut, pun juga susu bayi dan obat-obatan. Uluran keprihatinan juga bisa berupa donasi dana. Silakan salurkan sumbangan Anda melalui “Posko Muda Bali Tanggap Bencana” bertempat di Museum Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk 175 Denpasar atau ke Rekening Mandiri 1450006565820 atas nama Ni Made Purnamasari. Di samping itu, sebagai wujud solidaritas, sejumlah anak-anak muda akan menggelar doa bersama dan persembahan seni untuk amal setiap 4 (empat) hari sekali di Museum Sidik Jari. Kontak Person: 081805470801 dan 0818348006.

Juni 25, 2010

Film-Film Karya Wim Wenders di Bentara Budaya Bali

Posted in Agenda pada 3:17 am oleh Komunitas Sahaja

25–26 Juni 2010

Sebagai sutradara kelahiran Dusseldorf, Jerman, 14 Agustus 1945, nama Wenders cukup melambung di Amerika Serikat. Ia memeroleh penghargaan internasional sebagai sutradara terbaik dan Grand Jury Prize dalam Festival Film Cannes, Prancis. Ia juga menerima penghargaan Leopard of Honour di Festival Film Internasional Locarno pada 2005. Setelah lulus dari studi kedokteran di filsafat di Jerman, Wim mendalami seni di Paris, di tempat di mana ia memuaskan diri menonton film-film Prancis dan Amerika.

Wim Wenders, terkenal piawai mengolah hal-hal melankolis menjadi sesuatu yang menggetarkan. Hampir semua karyanya kental dengan tema-tema seputar kesepian, perasaan tersisihkan, dan serangkaian perjalanan mencari sesuatu.

Gaya Wenders menekankan segi visual, dan menempatkan cerita pada tingkat yang sekunder. Ia merenungkan lanskap dan pemandangan kota. Film-film Wenders telah sering disebut “film dari tatapan penuh kerinduan”. Baginya karema adalah sebuah sarana afeksi (demikian kata para kritikus yang menyukai film-filmnya). Unsur khas lain dari film-film Wenders adalah penggunaan musik, khususnya musik rock ‘n’ roll Amerika.

Paris, Texas (1984) menjadi suksesnya yang terbesar. Film ini dibuat di Amerika Serikat, dan naskahnya dibuat oleh Sam Shepard. Film ini memenangkan penghargaan “Palem Emas”. Lalu Wenders pulang ke Jerman untuk membuat Wings of Desire yang juga menang di Cannes pada 1987 untuk kategori Sutradara terbaik. Film yang menceritakan kisah tentang dua malaikat di Berlin yang terbagi dua ini adalah sebuah film kritis dan sukses secara komersial. Film ini diikuti oleh Far Away, So Close, yang mengambil tempat di Berlin setelah tembok kota itu diruntuhkan (1993).

Dan bulan ini, Bentara Budaya Bali akan memutar 4 film karya Wenders  yaitu Paris, Texas, The American Friend, Wings of Desire dan Faraway, So Close.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 25 Juni 2010

  • Paris, Texas(1984)

Sinopsis:

Do you mind telling me where you’re headed, Trav?
What’s out there? There’s nothing out there
.”
—Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton)
di film Paris, Texas (Wim Wenders, 1984)

Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut masai, langkahnya ringkih, terayun dalam irama tak pasti. Dari atas bebatuan kusam, berlatar belakang langit biru terang nan luas, seekor burung pemangsa menatapnya tajam, mungkin menanti kematiannya. Letih dan dahaga menyergap tak terperi, namun di atas segalanya, rasa kehilanganlah yang paling kentara: mata pria itu cekung dan menerawang. Di film Paris, Texas (1984), si pejalan kaki yang linglung itu bernama Travis, dan memang ada yang hilang dari hidupnya. Tapi dia tidak ingat apa itu. Dia terus melangkah dan melangkah, tanpa tahu ke mana dan mengapa.

Di menit-menit berikutnya, kita kemudian tahu, Travis ternyata memiliki anak dan istri, dan saudara laki-laki bernama Walt. Sesuatu yang buruk telah terjadi di masa silam, hingga Travis harus kehilangan mereka semua. Dan sebaliknya, mereka juga kehilangan dia. Travis raib tanpa kabar, dan orang-orang menyangkanya sudah mati. Tapi beberapa tahun kemudian dia muncul kembali: dari padang antah berantah, berbaju kumal, dengan ingatan payah dan mulut terkunci. Di salah satu gurun itulah Travis jatuh pingsan karena kelelahan, dirawat oleh dokter, dan Walt datang menjemputnya.

Cerita kemudian bergulir bukan pada kisah orang hilang, namun lebih pada perasaan kehilangan itu sendiri. Di sepanjang film penonton disuguhi upaya keras seorang ayah sekaligus suami melawan amnesia, mencari-cari kepingan masa lalu yang tercecer, menyusun ulang sembari berharap bisa kembali utuh seperti semula. Hunter, putranya yang masih bocah, ternyata dibesarkan oleh Walt dan pasangannya di kota Los Angeles selama dia menghilang. Sementara Jane, sang istri tercinta, tak jelas kabarnya. Layaknya perasaan kehilangan pada umumnya, selalu ada yang sulit kembali. Perlahan Travis mulai bersedia membuka mulut, dan memorinya berangsur-angsur pulih. Dengan segala keterbatasannya, susah payah dia terus mencoba. Maka film Paris, Texas, yang mengalir khidmat seperti air sungai yang tenang, lebih terfokus pada jalinan plot yang simpel, skenario lurus, dan karena itu justru mengharukan di sana-sini.

Tampak pada satu adegan, Travis bercukur rapi, membeli baju dan memakai sepatu yang pantas, lalu menjemput anaknya di gerbang sekolah. Dia peragakan aksi-aksi konyol demi merebut kembali hati Hunter yang awalnya tak bisa menerima kedatangannya. Setelah hubungan ayah dan anak mulai menghangat, mereka berdua sepakat melintasi perbatasan kota, mencari sang ibu. Rupanya Jane selalu mengirim uang untuk Hunter pada tanggal tertentu tiap bulannya dari sebuah rekening bank di Houston. Untuk melacaknya, Travis pun membeli sebuah truk tua. Maka dimulailah misi mulia itu, perjalanan mencari sesuatu yang di hilang di masa lalu.

  • The American Friend(1977)

Sinopsis:

Tambang Wim Wenders ‘Dennis Hopper’s real-pengalaman hidup sebagai pelukis dan kolektor dalam mengambil eksistensial pada film gangster Amerika yang berbasis pada novel Patricia Highsmith yang menampilkan Tom Ripley sosiopat terkenal. Hopper bintang sebagai eponymous Amerika, saat ini perantara yang menjual karya pelukis Derwatt Amerika (Nicholas Ray), yang pura-pura mati sendiri untuk meningkatkan nilai lukisannya. Sementara lelang ini bekerja di Berlin, ia bertemu seni pemulih Jonathan Zimmerman (Bruno Ganz), siapa dia belajar menderita penyakit darah yang tak tersembuhkan. Ketika seorang teman teduh (Gerard Blain) membutuhkan Ripley untuk menemukan “bersih” non-profesional untuk melakukan kontrak hit untuk membayar utang, bahkan dia enggan. Tapi ia dengan cepat menyadari bahwa Jonathan fisik rentan akan cocok untuk pekerjaan, dan mencoba untuk mendapatkan dia menerima dengan menggunakan berbagai dalih untuk membujuk dia bahwa kondisinya lebih buruk dari itu. Sementara itu, Blain menjamin pemulih bahwa keluarganya akan aman secara finansial seumur hidup, dan kesepakatan tercapai. Seperti biasa, tidak ada yang cukup berhasil seperti yang diharapkan.

Sabtu, 26 Juni 2010

  • Wings of Desire(1987)

Sinopsis:

Judul asli Jerman adalah Der Himmel über Berlin, yang dapat diterjemahkan sebagai The Sky (atau Surga) atas Berlin. Damiel ( Bruno Ganz ) dan Cassiel ( Otto Sander ) adalah malaikat yang mengawasi kota Berlin. Mereka tidak memiliki harpa atau sayap (baik, mereka biasanya tidak memiliki sayap) dan mereka lebih suka gaun mantel untuk halus. Tapi mereka dapat melakukan perjalanan yang tak terlihat melalui kota, mendengarkan pikiran orang, mengawasi tindakan mereka dan belajar hidup mereka. sementara mereka bisa membuat kehadiran mereka terasa di cara kecil, hanya anak-anak dan malaikat lain dapat melihat mereka. Mereka menghabiskan hari-hari mereka tenang mengamati, tidak dapat berinteraksi dengan orang-orang, dan mereka merasa tidak sakit atau sukacita. Suatu hari, Damiel menemukan jalan ke sirkus dan melihat Marion ( Solveig Dommartin ), seorang seniman-kawat tinggi, berlatih tindakannya, ia segera jatuh cinta. . Setelah pemilik sirkus memberitahu perusahaan bahwa acara ini kehabisan uang dan harus bubar, sink Marion ke sebuah funk, menyeret kembali ke trailer untuk merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya Ketika ia menonton itu, Damiel membuat keputusan: dia ingin menjadi manusia, dan ia ingin bersama Marion, untuk mengangkat semangatnya dan, jika perlu, untuk berbagi rasa sakitnya. Wim Wenders Wings ‘Keinginan adalah sebuah dongeng modern yang luar biasa kisah tentang sifat yang hidup.  Saksi malaikat keseluruhan emosi manusia, dan mereka mengalami kemewahan kesenangan sederhana (bahkan secangkir kopi dan rokok) sebagai orang-orang yang belum pernah mengenal mereka. Dari sudut pandang malaikat ‘, Berlin cantik terlihat dalam hitam-putih – sangat cantik tapi nyata; ketika mereka bergabung dengan manusia, bergeser gambar untuk warna kasar tapi terlihat alami, dan kasih karunia seperti waltz-malaikat’ drift melalui perubahan kota untuk irama keras. Peter Falk muncul sebagai dirinya sendiri, mengungkapkan sebuah rahasia yang kita mungkin tidak tahu tentang orang yang bermain Columbo, dan ada juga penampilan singkat tapi kuat oleh Nick Cave & the Bad Seeds. Keinginan engsel sayap pada tidak berwujud dan sukar dipahami, dan membangun sesuatu yang indah dari kualitas-kualitas.

  • Faraway, So Close (1993)

Sinopsis:

Wim Wenders mengunjungi kembali karyanya Der Himmel Uber Berlin dalam film ini yang mengangkat beberapa tahun setelah meninggalkan off asli. Cassiel ( Otto Sander ) adalah seorang malaikat yang mengawasi kehidupan masyarakat baru-baru ini bersatu Berlin dengan Raphaella ( Nastassja Kinski ). Damiel ( Bruno Ganz ), Damiel ( Bruno Ganz ), mantan mitra Cassiel yang memilih untuk kembali ke tanah yang hidup dalam film pertama, sekarang hidup bahagia sebagai koki pizza dengan wanita yang dicintainya dan menikah, pemain sirkus Marion ( Solveig Dommartin ). Sementara malaikat dilarang secara langsung campur tangan dalam kehidupan manusia, Cassiel impulsif melanggar aturan ini, ketika seorang gadis kecil jatuh dari balkon blok apartemen, dan dia swoops bawah untuk menangkapnya. Tiba-tiba menjadi daging dan darah, Cassiel telah menerima permusuhan dari Keluarkan Flesti ( Willem Dafoe ), semacam pengawas para malaikat pada bidang fisik. Keluarkan membuat usahanya untuk membuat hal-hal sulit untuk Cassiel sekarang ia tinggal di antara manusia, dan setelah periode alkohol dan penjara, Cassiel menemukan dirinya bekerja untuk gangster Tony Baker ( Horst Buchholz ), yang mendistribusikan senjata dan pornografi di pasar gelap . Namun, Cassiel telah berubah pikiran dan memutuskan untuk menghancurkan’s stockpile Tony dalam upaya untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Peter Falk , yang bermain sendiri di Der Himmel Uber Berlin , membuat penampilan kembali ketika galeri menunjukkan sketsa bahwa ia keputusan dalam film pertama; penyanyi rock Lou Reed dan mantan presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev juga muncul sebagai diri mereka sendiri.

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Remaja dan Dewasa. Apabila diperlukan, setiap peserta memperoleh sertifikat.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com




April 20, 2010

FILM MUSIKAL OSCAR DI BENTARA BUDAYA BALI

Posted in Agenda pada 2:56 pm oleh Komunitas Sahaja

Sebuah film, sebagaimana karya-karya seni lainnya, tidak hanya dipandang mampu memberikan pengalaman kreatif dan estetik bagi pemirsanya, namun juga dapat menjadi cerminan atas kehidupan serta problematik keseharian kita. Hal ini dapat disimak dalam tayangan film-film musikal peraih Piala Oscar (Academy Award) yang akan digelar Bentara Budaya Bali, bekerjasama dengan Komunitas Sahaja dan Udayana Scientific Club, pada Jumat dan Sabtu, 23-24 April 2010 mendatang. Acara ini akan diselenggarakan sedari pukul 16.00 WITA di Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass Prof. Mantra No. 88 A, Ketewel, Gianyar.

”Sebelumnya, sedari bulan Januari hingga Maret kemarin, telah diputar film-film karya sineas-sineas Iran, Cina, juga film-film dari Giuseppe Tornatore (Italia). Untuk agenda yang keempat di tahun 2010 ini, sengaja diputarkan film-film dari sutradara-sutradara Amerika mumpuni. Tujuannya adalah guna menghadirkan kepada publik salah satu sisi dunia perfilman Amerika, yang selama ini hanya dikenal sebagai negara industri film yang cenderung mengandung unsur hero dan melodrama melalui produksi-produksi Hollywoodnya,” ujar Sri Puspita dan Novianti Sri Cahyani, koordinator acara ini.

Film-film yang akan digelar oleh Bentara Budaya Bali kali ini merupakan hasil karya yang diproduksi sedari tahun 1950 hingga 2000-an, semisal An American in Paris (1951) garapan sutradara Vincente Minnelli, Mary Poppins (1964) yang dibintangi oleh Aktris Terbaik dalam Academy Award, Julie Andrews. Kedua film ini akan diputar pada Jumat, 23 April 2010.

Tayangan karya Bob Fosse, Cabaret (1972), yang meraih delapan Oscar, juga akan ditampilkan pada hari kedua acara pemutaran film Bentara Budaya Bali. Sebagai penutup, dihadirkan salah satu film besar Amerika, Chicago (2002), yang merupakan adaptasi dari lakon Amerika tersohor, Broadway. Film ini disutradarai oleh Bob Fosse, yang kemudian disempurnakan kembali oleh sineas Amerika terkenal, Rob Marshall, dengan aktor serta aktris mumpuni, Chaterine Zeta Jones serta Richard Gere.

”Selain menggelar pemutaran film, acara ini juga akan dilanjutkan dengan diskusi yang memberikan ruang bagi hadirin untuk dapat membagikan pengalaman kreatifnya selama kegiatan ini berlangsung,” ujar Sri Puspita.

”Ke depan, di samping melakukan kegiatan serupa secara berkelanjutan, Bentara Budaya Bali juga akan mengagendakan workshop film, yang menghadirkan penggiat film Indonesia mumpuni,” tambah Novi.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 23 April 2010

  • An American in Paris (1951)

Sinopsis:

An American in Paris (1951) adalah film produksi MGM, salah satu industri film ternama Amerika. Film musikal ini terinspirasi oleh komposisi orkestra yang ditampilkan pada tahun 1928 oleh Goerge Gershwin. Dibintangi oleh Gene Kelly, Leslie Caron serta Oscar Lavent, di bawah arahan sutradara Vincente Minelli, film ini mengambil setting di Paris. Adegan-adegannya ditampilkan dengan sedemikian memukau, dengan paduan musik orkestra serta tari balet yang sungguh indah. Karenanya, film ini pun layak dianugerahi enam piala Oscar (Academy Award) pada masanya.

Film ini berkisah tentang Jerry Mulligan (Gene Kelly), seorang veteran Amerika semasa perang dunia II, yang kini menjadi ekspartriat di kota Paris, Perancis. Di negeri Eropa inilah ia mencoba untuk menjadi seorang pelukis, yang bersahabat dengan pianis konser, Adam (Oscar Levant) yang berjuang mempertahankan idealismenya bersama rekan penyanyinya, Henri Baurel (George Guétary).

Kisahan menjadi lebih menarik lagi  setelah Jerry berjumpa dengan Milo Roberts (Nina Foch), seorang gadis yang amat merindukan kehangatan persahabatan, keindahan, serta cinta yang suci. Namun, Jerry malahan tidak menyadari perasaan cintanya, dan memilih mencintai perempuan lain, Lise (Leslie Caron), seorang dara Perancis yang jelita.

Kisah cinta mereka tak berjalan dengan baik. Pada bagian kisahan selanjutnya, hadirin akan dibuat terhenyak begitu menyadari bahwa Leslie ternyata telah menjalin affair dengan Henri lantaran merasa berhutang budi kepada sang biduan tersebut sebagai ungkapan terimakasih telah menyelamatkan keluarganya dari tragedi Perang Dunia II. Malang tak dapat ditolak, Jerry yang tak menyadari hal itu sebelumnya harus menghadapi kenyataan bahwa pujaan hatinya akan menikahi Henri si penyanyi. Sementara itu, Milo, yang putus asa, tak dapat berbuat apa-apa untuk meraih kebahagiaan yang diimpikannya—yakni meraih cinta Jerry.

Adegan penutup An American in Paris sungguh amat mengharukan. Setelah memahami kejadian pelik yang dialaminya, Jerry seketika merasa gamang. Dengan iringan orkestra yang memukau, Jerry melamunkan wajah kota Paris, membayangkan masa lalu, dan harapan akan masa depannya yang pupus di tengah jalan.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Mary Poppins (1964)

Sinopsis:

Diproduksi pada tahun 1964 oleh Walt Disney, Mary Poppins adalah sebuah film musikal yang dibintangi oleh Julie Andrews dan Dick Dyke. Film klasik ini disutradarai oleh sineas Amerika tersohor Robert Stevenson, di mana penulis naskahnya ialah Bill Walsh dan Don DaGardi. Film ini bahkan telah dinominasikan pada 13 kategori dalam Piala Oscar, serta berhasil menyabet 5 penghargaan tersebut, salah satunya untuk kategori Aktris Terbaik (Julie Andrews).

Cerita film ini bermula dari Mary Poppins (Julie Andrews) yang membayangkan dirinya melayang riang di langit musim semi London di tahun 1910. Namun, sekilas adegan pembukaannya, kisahan seakan ‘dibumikan’ dengan gambaran peristiwa sebuah taman, di mana Bert (Dick van Dyke), yang tengah memainkan sebuah pertunjukan musik tunggal di salah satu pintu masuknya. Setelah adegan musik yang menyentuh itu, cerita segera beralih pada kehidupan keluarga Tuan Banks (David Tomlinson), di mana pada keluarga inilah Mary Poppins kemudian bekerja sebagai pengasuh anak-anaknya.

Sungguh tak mudah bagi Mary untuk memenuhi tugas-tugasnya. Tuan Banks begitu dingin serta bersikap acuh tak acuh pada segala hal. Sementara itu, putra-putrinya sedemikian bandel dan betul-betul kepala batu. Istri majikannya, Nyonya Banks (Glynis Johns) pun tak kalah sinis terhadap Mary, sang pengasuh baru itu.

Namun Mary tak kenal menyerah. Dengan sabar, ia memberikan cara pandang yang lain terhadap putra-putri keluarga Banks, mengajarkan mereka untuk memahami dan menghayati kebahagiaan, berimajinasi dan menemukan hal-hal tak terduga dalam hidup mereka. Dengan menggunakan idiom layang-layang sebagai makna cinta dalam keluarga, anak-anak mulai mengerti sedikit demi sedikit akan betapa pentingnya kehidupan keluarga yang penuh tawa dan canda.

Film ini ditampilkan dengan amat menyentuh, mengajak pemirsanya untuk tidak hanya bergembira bersama dengan iringan musik dan lagu yang indah, namun juga merenungi kembali makna keseharian serta menemukan keindahan kebahagiaan.

Detail Info Film Klik di Sini.

Sabtu, 24 April 2010

  • Cabaret (1972)

Sinopsis:

Film ini mengisahkan tentang Sally Bowles, (Liza Minneli), seorang penyanyi kelas dua yang bermukim di Jerman sebelum Perang Dunia II. Impiannya hanya satu: menjadi bintang biduan yang kaya raya. Sambil mengangankan harapannya itu, Sally menghabiskan hari-harinya dengan menjadi seorang penyanyi di kabaret Kit-Kat, bar kumuh di mana pengunjungnya hanyalah sekumpulan orang-orang yang miskin dan cenderung perilaku tak senonoh.

Sally kemudian berjumpa dengan Brian Roberts (Michael York), pemuda tampan namun miskin yang juga diasingkan oleh kehidupan sosialnya. Selama ini Brian berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengajarkan bahasa Inggris seraya mencoba menyelesaikan studinya di Jerman. Sia-sia saja Sally merayu dan melemparkan isyarat cinta pada Brian, hingga akhirnya, dengan saking jengkelnya, Sally pun berkesimpulan bahwa Brian pastilah seorang gay.

Selama film ini diputar, pemirsa dapat dengan kentara menemukan betapa kentalnya kehidupan sosialis ala NAZI di dalamnya. Adegan gosip dan gunjingan ditampilkan dengan apik, sehingga kian menegaskan pengaruh ide-ide rasisme yang boleh jadi juga mencerminkan kehidupan masyarakat Jerman masa itu.

Sally memiliki seorang sahabat, Maximilian von Heune (Helmut Griem), seorang bangsawan kaya raya. Sewaktu melihat sosok lelaki ini, segera saja Sally membayangkan adegan percintaan dengan Max si bangsawan, tentu saja dengan sedikit angan-angan tentang wajah Brian. Kisahan menjadi makin menarik setelah Sally mengaku kepada Brian bahwa dirinya telah bercinta dengan Max. Pernyataan ini disambut dengan tawa sinis Brian, yang membalas bahwa dirinya juga telah tidur dengan Max.

Pada bagian berikutnya, Sally menyadari bahwa dirinya hamil. Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba ia memutuskan untuk melakukan aborsi. Kenyataan ini agaknya mengubah pandangan Sally dan Brian. Di tengah kehidupan yang kian pelik, dengan situasi sosial dan politik yang tak mudah, Brian mesti mengambil sikap: bertolak ke Inggris dan meninggalkan Jerman selamanya. Sementara itu, Sally bertahan di negeri Eropa itu, menyanyikan lagu pada hadirin yang mulai menghargai talentanya.

Namun adegan penutup agaknya memberikan indikasi yang berbeda. Pemirsa tentu tak akan menduga, bahwa di ujung cerita, Sally mesti menghadapi kenyataan di mana kabaret tempatnya bekerja mesti ditutup oleh sepasukan serdadu NAZI. Adakah ini kenyataan politik yang memupuskan harapan, ataukah titik tolak baru akan lahirnya angan-angan yang lain, pemirsalah yang menilainya.

Film yang dirilis tahun 1972 ini disutradarai oleh Bob Fosse. Film musikal ini meraih delapan penghargaan Oscar, salah satunya adalah penyutradaraan terbaik.

Detail Info Film Klik di Sini.

  • Chicago (2002)

Sinopsis:

Chicago (2002) adalah film Amerika musikal yang diadaptasi dari naskah satir khas Broadway yang bertajuk serupa. Film ini mengeksplorasi dengan apik beragam tema yang pelik, semisal selebritas, skandal, serta korupsi, yang dipadukan dengan gaya jazz ala kota Chicago.

Disutradarai oleh Rob Marshall, film ini berkisah tentang kehidupan kota Chicago pada tahun 1927. Cerita dimulai oleh Roxie Hart mengunjungi klub malam, di mana bintang Velma Kelly melakukan pertunjukan All That Jazz bersama Fred Casely. Kedatangannya dipenuhi dengan harapan dan rencana, yakni melihat gelagat sekitar, mencari dengan siapa ia dapat menjalin affair, yang giliran berikutnya dapat menjadi batu loncatannya meraih sukses sebagai bintang vaudeville.

Tanpa dinyana, kehadirannya di tempat pertunjukan tersebut seketika mengubah jalan hidupnya. Seusai pertunjukan, Velma ditangkap karena dituduh membunuh suaminya yang berselingkuh dengan adiknya, Veronica, sesaat setelah Velma menemukan mereka di tempat tidur bersama. Sebulan kemudian, Fred menyatakan bahwa ia menyatakan kepada Roxie bahwa dirinya berbohong tentang koneksi di bisnis pertunjukan hanya demi menginginkan tubuh Roxie semata. Mengetahui hal ini, Roxie yang diliputi amarah pun menembak Fred tiga kali.

Malang bagi Roxie tak hanya berhenti di situ. Dengan tipu daya suaminya yang naif, Amos, dirinya dijebloskan ke penjara. Di sanalah Velma dan Roxie bertemu, berada dalam kehidupan yang sulit di mana mereka mesti menghadapi sipir penjara yang korup. Di sana pula mereka belajar akan makna kehidupan dan mencoba bertahan untuk meraih impian. Mereka tumbuh menjadi pribadi bertanggung-jawab yang berhasil memetik pelajaran dari pengalaman sesama napi di bui tersebut.

Selama itu pula, Roxie berupaya menemukan upaya guna mengembalikan nama baiknya. Dengan bantuan Billy Flynn, pengacara Velma, ia mencoba membuat kenyataan palsu tentang kehidupan, bahkan juga kehamilannya untuk membuat suaminya, Amos, tersudutkan. Setelah kenyataan yang dimanipulasi itu, Roxie pun memperoleh publisitas dan seakan hampir meraih harapannya untuk bebas dan tenar.

Info Detail Film Klik di Sini.

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Remaja dan Dewasa. Apabila diperlukan, setiap peserta memperoleh sertifikat.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar

Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com

Februari 9, 2010

PEMUTARAN FILM CHINA DI BENTARA BUDAYA BALI

Posted in Agenda pada 1:24 pm oleh Komunitas Sahaja

Enam film China yang akan diputar berjenis drama dan komedi yang telah meraih berbagai penghargaan di kancah internasional. Film-film tersebut memberi gambaran tentang perkembangan masyarakat China yang bergerak mulai dari golongan pedesaan yang miskin hingga kaum metropolitan yang gemerlap dan modern.

Dua film drama komedi Zhang Yimou adalah Not One Less (1999, 106 menit) dan Happy Times (2001, 95 menit). Film pertama adalah tentang Gao, seorang siswi berusia 13 tahun yang terpaksa harus menjadi guru pengganti di sebuah sekolah dasar di pedesaan. Oleh gurunya, jika ingin memperoleh bonus sejumlah uang, Gao diwanti-wanti ke-28 murid yang dititipkan kepadanya harus tetap dalam jumlah utuh jika sang guru balik dari perjalannya ke kota. Celakanya, salah satu murid menghilang karena dikirim ibunya untuk bekerja ke kota, Gao pun menyusul mencari. Film ini memenangkan penghargaan Singa Emas di Festival Film Venesia. Sementara film kedua lebih kocak, berkisah tentang seorang lelaki pembual.

Film drama Together (2002, 118 menit) karya Chen Kaige berkisah tentang seorang remaja pria yang amat piawai bermain biola yang dibawa oleh ayahnya dari kota kecil untuk mengembangkan bakatnya di Beijing. Si remaja sempat ditolak sekolah musik terkenal, namun kemudian dibina langsung oleh dua orang guru musik yang disegani. Film drama The King of Masks (1996, 101 menit) arahan Wu Tianming amat mengharukan karena mengisahkan seorang pria tua pengamen topeng jalanan (dibintangi aktor senior Zhu Xu) yang ingin mewariskan kemampuannya kepada seorang anak pria. Anak yang ditemukannya di jalanan yang semula dikiranya pria, ternyata bocah perempuan.

Film kelima adalah Beijing Bicycle (2001, 113 menit), karya sutradara Wang Xiaoshuai dengan judul asli Shiquide danche, yang diproduksi sebagai bagian dari seri film Tales of Three Cities ciptaan sutradara-sutradara muda China. Film drama ini mengisahkan seorang pemuda dari pedesaan China yang mengadu nasib di Beijing sebagai kurir antaran surat yang menggunakan sepeda.

Film keenam, Shower (1999, 95 menit) ditulis dan disutradarai Zhang Yang. Film drama komedi ini jenaka juga sentimental. Film ini mengisahkan kehidupan di sebuah kawasan tua Beijing yang masih dihuni orang-orang berusia agak lanjut yang biasa menjadikan tempat pemandian umum untuk berkumpul dan bersosialisasi. Pemilik tempat pemandian itu adalah Liu yang diperankan Zhu Xu (pemain utama The King of Masks) yang mempunyai dua orang putra. Anak pertama adalah seorang pria karir modern yang tinggal di metropolitan Shenzhen di selatan dan kebetulan pulang menjenguk sang ayah. Adiknya agak mengalami keterbelakangan mental. Masalah terjadi ketika kawasan tempat pemandian umum itu akan dibongkar.

JADWAL PEMUTARAN FILM

Jumat, 12 Februari 2010

Not One Less
Happy Times
Together

Sabtu, 13 Februari 2010

The King of Masks
Beijing Bicycle
Shower

PENTING!

Acara Pemutaran Film ini Gratis, terbuka untuk siapa saja, dengan kategori Semua Umur.

Informasi:

Komunitas Sahaja, Jalan Hayam Wuruk 175, Denpasar // Email : komunitas.sahaja@yahoo.com // Facebook : komunitas.sahaja@yahoo.com

Laman berikutnya

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.